Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

04 November 2016

Mengapa (Mahasiswa) Butuh Filsafat?




Filsafat di kalangan masyarakat luas lebih dicirikan sebagai disiplin ilmu yang pembahasannya cenderung abstrak dan hampir bisa dikatakan tidak ada ruang untuk pemanfaatan secara praktis/langsung kecuali untuk kepentingan analisis dan pengembangan keilmuan di dunia akademis. Louis O. Kattsoff menyebut “ketidakpraktisan” filsafat ini dengan ungkapan “filsafat tidak membuat roti”. Secara positif, dari ungkapan Kattsoff ini dapat diilustrasikan lebih lanjut bahwa “membuat roti” merupakan muara hampir semua disiplin ilmu-ilmu khusus untuk menunjukkan peran praktis ilmu dalam rangka mengoptimalkan kerja otak dengan berorientasi pada kebermanfaatannya bagi kehidupan manusia dalam menghadapi realitas. Apakah kemudian bisa dikatakan bahwa filsafat tidak memiliki nilai kemanfaatan? Apakah benar sindiran sebagian kalangan yang menyebut filsafat sebagai “kesibukan yang sia-sia”? Atau, dalam koridor agama, filsafat justru menyesatkan spiritualitas-religius manusia?
Filsafat memang tidak membuat roti, tetapi berperan dalam mempersiapkan tungkunya, membersihkan wadah rotinya, apapun yang bisa dikategorikan sebagai “persiapan mendasar” dalam membuat roti. William Durrant, senada dengan Kattsoff, mengilustrasikan filsafat sebagai pasukan marinir yang turun mendahului pasukan infanteri lain (ilmu-ilmu khusus) untuk mengamankan teritori wilayah yang hendak diserbu. Ilustrasi tersebut dapat mengilhami pembaca, bahwa ilmu dalam menciptakan kreasi-kreasi ilmiahnya sebenarnya berawal dan berproses dari kejernihan dasar-dasar filosofis yang melandasinya.
Meskipun demikian sejak akhir abad ke-20 sudah mulai muncul geliat para sarjana dan praktisi filsafat untuk meluruskan dan memberikan tekanan praktis terhadap filsafat. Kemampuan retorika yang merupakan konsekuensi penguasaan substansi dan kejelasan argumentasi, merupakan salah satu aspek praktis filsafat yang sempat menarik perhatian beberapa selebritis. Lou Marinoff adalah contoh salah seorang dari praktisi filsafat ini yang berusaha “membumikan” filsafat (bisa dilihat dalam buku The Consolations of Philosophy dan Plato Not Prozac: Applying Philosophy to Everyday Problems) yang pada intinya memotivasi praktisi filsafat seluruh dunia untuk menerapkan filsafat sebagai terapi (konseling filsafat) untuk menangani problem keseharian.
Pembelajaran filsafat (dengan berbagai tema, misalnya filsafat ilmu, filsafat pendidikan, dan sebagainya) meskipun sudah diampu/dibimbing oleh dosen dengan kompetensi keilmuan filsafat, peluang untuk “membingungkan” cenderung tinggi, khususnya perkuliahan filsafat untuk mahasiswa dengan kompetensi utama kesarjanaannya non-filsafat. Hal ini tidak hanya terkait dengan tingkat pemahaman logika mahasiswa sebagai syarat kognitif utama perkuliahan filsafat, namun salah satunya juga dipengaruhi oleh model penyampaian materi oleh dosen. Selain itu, bahan perkuliahan filsafat (khususnya karya-karya para filsuf) memang bertaburan istilah-istilah yang sering sukar dipahami. Hal ini juga menjadi salah satu alasan, mengapa disiplin filsafat tidak disarankan untuk diberikan sebagai bahan pembelajaran di sekolah menengah atau dasar (meskipun dimungkinkan dengan berbagai pendekatan yang hati-hati). Keterampilan berlogika dan frekuensi untuk membaca bacaan-bacaan yang mendukung memang sangat disyaratkan agar mempermudah mahasiswa mengikuti perkuliahan filsafat. Buku ini menyumbang upaya pengayaan bacaan filsafat.
Manfaat apa yang bisa dipetik dari belajar filsafat, termasuk untuk mahasiswa yang tidak berada di jurusan/fakultas filsafat? Hasilnya tentu tidak dapat diukur. Seorang dosen bernama N. Ferre yang sudah 30 tahun lebih mengajar filsafat di Amerika Serikat mengatakan: “as a whole those who had studied philosophy in college were better equipped to handle advanced thinking than those who had not”. Studi filsafat dapat mempersiapkan mahasiswa dari kompetensi keilmuan apapun untuk “handle advanced thinking”. Mereka sanggup menempatkan problem-problem yang harus ditangani dalam konteks yang lebih luas dan lebih mendalam. Mereka lebih gampang menangkap inti persoalan dan tahu bagaimana membedakan hal penting dari hal-hal sampingan. Mereka lebih peka terhadap nuansa-nuansa. Mereka lebih sanggup merumuskan permasalahan dengan lebih jelas. Pendek kata, walaupun studi filsafat tentu belum menjamin jawaban yang tepat bagi semua problem yang dihadapi, namun seringkali ia dapat membantu menilai dan mensituasikan problem-problem konkrit dengan lebih tepat dan matang. Kata John Henry Newman, filsafat dapat menghasilkan “education of mind” (Bertens, 2005: 20). Saran Bertens kemudian, dosen pengajar filsafat tidak perlu memaksa mahasiswa segera menangkap relevansi dari pengajaran filsafat.
Terlepas dari pandangan awam tentang filsafat, sebenarnya secara historis filsafat menempati posisi penting bagi kemunculan ilmu-ilmu khusus. Kelahiran filsafat di Miletos, Yunani Kuno di sekitar abad ke-6 SM dicatat sejarah sebagai fajar baru penekanan rasionalitas (dan menggeser tradisi mitos) dalam menjelaskan permasalahan sehari-hari. Ilmu-ilmu lain muncul kemudian sebagai kebutuhan spesifikasi penyelidikan filosofis yang amat beragam. Oleh karena itu, filsafat sering disebut sebagai mother of science (induknya ilmu).  Secara singkat, filsafat mencakup “segalanya”. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut “sebelum” karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut “sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentang batas-batas dari kekhususannya.
Dalam koridor akademis modern, belajar filsafat bisa dengan tiga kategori:
1.       Belajar filsafat dengan cara historis – berdasar kurun waktu tertentu
2.       Belajar filsafat dengan cara sistematis – spesialisasi cabang-cabang filsafat tertentu
3.       Belajar prinsip-prinsip filsafat – pola yang digunakan.
Belajar filsafat berarti belajar menangkap esensi-esensi dari apapun topik pembicaraannya. Belajar filsafat – meminjam istilah Damardjati Supadjar - merupakan suatu langkah “nawangsari”, menerawang sari/inti/esensi, melaluinya subjek menemukan dirinya bersama-sama dengan dunianya dalam suatu radikalitas pemahaman yang utuh dan menyeluruh. Penjelasan tentang hal-hal ini bisa didalami di bagian-bagian berikutnya bab ini. 
Istilah Filsafat (Indonesia) bisa dilacak etimologinya dari istilah Arab falsafah, atau bahasa Inggris philosophy yang berasal dari bahasa Yunani, philosophia yang terbentuk dari dua akar kata: philein (mencintai) dan sophos (bijaksana), atau juga philos (teman) dan sophia (kebijaksanaan). Filsafat adalah “love of wisdom”, cinta kebijaksanaan. Orang yang cinta kepada pengetahuan atau kebijaksanaan disebut filsuf (Indonesia), philosopher (Inggris), failasuf (Arab), atau seperti yang disebutkan Pythagoras (572-497 SM) dalam bahasa Yunani Kuno, philosophos (lover of wisdom). Sesuatu ungkapan atau teks yang berbicara dalam konteks filsafat, diistilahkan sebagai “filosofis (philosophical).
Tidak jarang ditemui penggunaan kata “pandangan hidup” (worldview), atau “hikmah” (dalam arti yang sejenis wisdom). Menarik juga untuk dicatat bahwa kata "hikmat" bahasa Inggerisnya adalah "wisdom", dengan akar kata "wise" atau "wissen" (bahasa Jerman) yang artinya mengetahui. Dalam bahasa Norwegia itulah "viten", yang memiliki akar sama dengan kata bahasa Sansekerta "vidya" yang diindonesiakan menjadi "widya". Kata itu dekat dengan kata "widi" dalam "Hyang Widi" =  Tuhan.  Kata "vidya" pun dekat dengan kata Yunani "idea", yang dilontarkan pertama kali oleh Socrates/Plato dan digali terus-menerus oleh para filsuf sepanjang segala abad.
Filsafat sejati selamanya akan terus mencari kebijaksanaan tanpa kenal lelah. Aktivitas yang khusus bagi filsafat adalah bertanya. Dengan berfilsafat, seseorang tidak memperoleh pengetahuan (erudition) namun hanya memperdalam ketidaktahuan saja. Filsafat, meminjam istilah Nicolaus Cusanus, mengantar kita kepada docta ignorantia (ketidaktahuan yang terpelajar). Contoh historis tentang konsepsi filsafat ini adalah Socrates, bagaimana ia mempraktekkan seni kebidanan (maieutika techne) hanya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terus menerus. Perlu diakui bahwa dalam sejarah filsafat modern justeru filsuf-filsuf yang membaharui pemikiran filosofis seringkali tidak harus dicari dari kalangan akademis, misalnya dari seorang profesor filsafat. Immanuel Kant yang berstatus profesor filsafatpun, mengembangkan pemikiran barunya yang sangat berpengaruh di luar jalur akademis resmi. Kant berujar "tidak mungkin orang belajar filsafat; orang hanya dapat belajar berfilsafat”. Apabila orang yang ahli filsafat dalam arti menguasai sistem-sistem, konsep-konsep, dan diskusi-diskusi menyangkut filsafat disebut filsuf, lebih tepatnya filsuf akademis, tetapi filsuf akademis atau profesor filsafat belum tentu sama dengan filsuf sejati: “terdapat jauh lebih banyak profesor filsafat daripada filsuf”  (Bertens, 2005: 16-17).
Karl Popper (1902-?) menulis "semua orang adalah filsuf, karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan kematian. Ada yang berpendapat bahwa hidup itu tanpa harga, karena hidup itu akan berakhir. Mereka tidak menyadari bahwa argumen yang terbalik juga dapat dikemukakan, yaitu bahwa kalau hidup tidak akan berakhir, maka hidup adalah tanpa harga; bahwa bahaya yang selalu hadir yang membuat kita dapat kehilangan hidup sekurang-kurangnya ikut menolong kita untuk menyadari nilai dari hidup".  Mengingat berfilsafat adalah berfikir tentang hidup, dan "berfikir" = "to think" (Inggeris) = "denken" (Jerman), maka - menurut Heidegger (1889-1976 ), dalam "berfikir" sebenarnya kita "berterimakasih" = "to thank" (Inggris) = "danken" (Jerman) kepada Sang Pemberi hidup atas segala anugerah kehidupan yang diberikan kepada kita.
Dardiri (1986: 10) cenderung membicarakan arti filsafat dari dua segi, segi pengetahuan dan segi aktivitas akal manusia. Dari segi pengetahuan filsafat adalah jenis pengetahuan yang berusaha mencari hakikat dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan bila dilihat dari segi aktivitas akal, filsafat adalah suatu aktivitas akal manusia yang secara radikal hendak mencari keterangan terdalam segala sesuatu yang ada. Menurut hemat penulis, pemahaman di bidang filsafat juga bisa ditengarai dalam tiga hal: filsafat dipahami sebagai metode penalaran, filsafat sebagai pandangan hidup/sikap, dan filsafat sebagai produk atau karya filsuf-filsuf terdahulu (teori atau sistem pemikiran). Sedangkan Harold H. Titus (dalam Dardiri, 1986: 11) mewanti-wanti agar dalam mendefinisikan filsafat perlu dilihat juga filsafat sebagai kumpulan masalah. Artinya, para filsuf sejak dahulu sampai sekarang bergumul dengan persoalan-persoalan seperti kebenaran, keadilan, dan keindahan. Filsafat sebagai kumpulan masalah ini mengafirmasi pendapat Gabriel Marcel bahwa manusia adalah makhluk problematik, makhluk yang senantiasa berhadapan dengan berbagai permasalahan.

Gambar 1.1. The Death of Socrates.

Lukisan terkenal Jacques Louis David yang menlukiskan kisah terkenal filsafat tentang kesetiaan kepada kebenaran sebagaimana dilakukan Socrates.

Justru karena dilatarbelakangi oleh kodrat sebagai makhluk problematik ini, manusia dengan akalnya homo viator, peziarah di muka bumi. Kodrat sebagai pengelana ini pada gilirannya menempatkan pengetahuan sebagai bekal paling penting; inilah manusia sebagai homo sapiens, atau kata Aristoteles, manusia sebagai animal rational, makhluk yang berpikir, makhluk rasional. Kedewasaan seorang manusia, berbanding lurus dengan kemampuannya mengurai dan mengatasi berbagai permasalahan dengan mengedepankan rasio sebagai instrumen analisator utamanya.
Pemahaman kodrat diri ini mengindikasikan pentingnya filsafat sebagai disiplin yang acapkali mempersoalkan hal-hal mandasar seperti “siapa aku?”, “untuk apa aku hidup?”, “apakah Tuhan benar-benar ada?”, dan berbagai persoalan eksistensial lain yang selalu relevan dipertanyakan sepanjang peradaban manusia. Filsafat membantu seseorang mengerti tentang diri sendiri dan dunia, karena filsafat mengajarkan bagaimana bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti tersebut di atas.
Pergulatan yang berupa pemikiran/permenungan/refleksi dalam menghadapi realitas yang merupakan medan raksasa permasalahan tersebut, mengarahkan pendefinisian filsafat yang berbeda dari disiplin pengetahuan tentang realitas lainnya (seperti ilmu, agama, atau seni). Secara terminologis, penulis menggunakan definisi filsafat sebagai
kegiatan/hasil pemikiran/permenungan mendalam dan radikal yang menyelidiki sekaligus mendasari segala sesuatu yang berfokus pada makna di balik kenyataan/teori yang ada untuk disusun dalam sebuah sistem pengetahuan rasional.

Perenungan kefilsafatan merupakan percobaan untuk menyusun sebuah sistem pengetahuan rasional yang memadai untuk memahami dunia maupun diri sendiri. Filsafat adalah scientia rerum per causas ultimas -- pengetahuan mengenai hal ikhwal berdasarkan sebab-musabab yang paling dalam.

20 September 2015

Filsafat Olahraga itu Sesuatu Banget...

Ketika tahun 1998 Indonesia menyepakati Ilmu Keolahragaan sebagai ilmu yang mandiri, setahun berikutnya sayapun dipanggil untuk memperkuat ilmu baru tersebut. Tentu, dengan filsafat sebagai "core" saya. Di antara keresahan eksistensial saya (waduhh :D) di tempat itu, saya tentu mulai mencari tahu tanpa satupun teman yang menjadi guide. Eh, ralat, ada teman sih, namanya "buku KDI-Keolahragaan" yang terbit tahun 2000. Setelah baca-baca sekilas, saya baru memahami mengapa orang filsafat kok dicari2 oleh Fakultas Ilmu Keolahragaan Unesa (yang pada saat itu masih Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Negeri Surabaya).

Sampai tahun 2001, eksistensi (dan apalagi self-confident serta self-efficacy) saya masih belum sepenuhnya ter-charge dengan sempurna. Kerjaan saya mengajar, pulang. Itu aja tiap harinya. Hampir2 ngenes karena tidak tahu apa yang bisa kukontribusikan ke lembaga FIK khususnya, dan negeri ini umumnya dalam kaitannya dengan kapasitas saya sebagai orang filsafat di tengah2 belantara orang2 olahraga. Sekretaris Jurusan di mana saya mengabdi waktu itupun saat kukonsultasikan ke beliau, hanya manggut2 tidak "ngeh" dengan keluh kesah model saya. Hehe.. Satu orang kolega di kampus (sekarang sudah almarhum) yang kemudian "memanfaatkan" saya, dari situ saya perlahan2 mulai percaya diri.

Tahun 2001 - 2003 saya kuliah S2 di UGM. Dari jauh, saya melihat FIK Unesa dengan kacamata baru. Setidaknya saat itu saya mulai mengambil posisi "aku filsafat, aku dibutuhkan" meskipun masih belum optimal keteguhan sikap dan posisi saya itu. Dari keahlian komputer yang waktu itu di FIK masih cukup langka, saya mulai dikenal orang2 FIK. Bahkan sampai dipercaya membuat dan mengelola website. Hehe.. Percaya diri saya tambah gede.

Lalu, sayapun menulis buku. Filsafat Olahraga judulnya. Belum bergema sih, tetapi eksistensi saya sudah mantap di FIK. Siapa yang paling tahu filsafat olahraga, setidaknya di Unesa, sayalah orangnya. kata mereka begitu. Padahal saya masih merasa sebagai bayi yang tidak pernah disusui, tetapi harus segera dewasa.

Tiba-tiba tahun 2006 buku saya ke-4 tembus penghargaan nasional. Tentang Filsafat Ilmu. Banyak teman2 Unesa yang mulai bangkit semangat berkarya ilmiahnya setelah itu. Sudahlah, singkat cerita setelah itu sayapun sejajar dengan teman2 dosen lain. Setidaknya menurutku, ga peduli menurut yang lain. Hehe... Seperti biasanya aku, tidak ada yang memperbedakan aku dengan siapapun manusia dalam hal keharusan menunduk tawadhu, kecuali orang2 saleh. Hehe.. Intinya, aku sudah kembali menjadi aku yang penuh.

Kesibukan mengajar saya menjadi-jadi. Mengajar hampir 50 SKS dalam 1 semester sudah biasa bagi saya. Minim penghargaan, dan memang layak digoblok2in..kok mau2nya lo saya ini. Kuncinya, saya senang2 saja melakukannya. Semuapun terasa ringan. Xixixixi...

Setelah mendapat gelar Doktor Ilmu Filsafat tahun 2014 dengan Filsafat Olahraga sebagai kepakaran saya, di semester itu juga saya diminta mengajar S3 utk mata kuliah Filsafat Olahraga bersama Prof Toho CM, mantan rektor Unesa yang menjadi arsitek berubahnya IKIP menjadi Unesa, dan sekaligus arsitek deklarasi Ilmu Keolahragaan sbg ilmu yang mandiri. Saya bersanding dengan beliau utk mengajar calon2 Doktor Ilmu Keolahragaan! Wow... sesuatu yang 15 tahun seblumnya saya justru berada di posisi sebaliknya: "terasing" karena saya filsafat kok ada di tengah2 akademisi olahraga. Tuhan tidak sedang bermain2 dengan kemisteriusanNya.

Tahun 2015. Medio September. Terbitlah buku saya: "Filsafat Ilmu Keolahragaan", yang sejujurnya berangkat dari kisah kegalauan saya 15 tahun lalu itu... Bismillah-ku, menggema terus menerus di aliran kesadaranku.


22 November 2014

PANGGILAN KEBENARAN (1)


Saya sedang berfilsafat. Anda pembaca, ketika membaca terus tulisan saya ini, juga sedang berada di kawasan filsafat. Suatu kawasan yang acapkali jauh dari radar kerumunan kita, tetapi sekaligus sebenarnya, sangat dekat dengan pilihan-pilihan kata kita, pilihan-pilihan diksi kita, pilihan-pilihan sikap kita, pilihan-pilihan "keakuan" kita, bahkan pilihan-pilihan hidup dan mati kita. Di kawasan filsafat ini, saya mengimani, tidak ada satupun rambu-rambu yang secara hakiki ada, kecuali petunjuk arah menuju KEBENARAN. Dan petunjuk itu, masing-masing kita sendiri yang mengadakan dan menegakkannya, entah unik ataupun sama dengan rambu milik orang lain.

Filsafat adalah jalan menuju kebenaran, bukan jalan ("dari") kebenaran. Filsafat bisa saja "berada di atas" kebenaran, bisa juga tidak. Filsafat bisa saja menghasilkan kebenaran, bisa juga tidak. Filsafat bisa berarti membenarkan suatu kebenaran, tetapi lebih sering menyalahkan kebenaran lama. Filsafat saya dan filsafat anda, bisa saja sama-sama benar, bisa saja sama-sama salah, atau bisa saja salah satu di antara kita yang benar. Apapun pendapat anda tentang filsafat, saya taklid kepada Phytagoras, bahwa filsafat selalu mencintai kebenaran, mencintai kebijaksanaan. Dan bukankah panggilan cinta saya terhadap kebenaran sama dengan panggilan cinta anda terhadap kebenaran (meskipun mungkin kadarnya berbeda)? Bukankah pula, sama-sama mencintai kebenaran dari suatu hal, bisa menghasilkan pernyataan kebenaran yang berbeda dari hal itu? Contoh: Orang Amerika, bisa besaksi sejujur-jujurnya (karena cintanya pada kebenaran) bahwa "sekarang tepat tengah hari", berbeda dari kesaksian orang Indonesia yang juga mencintai kebenaran? Sesederhana itu... Kesadaran posisi di belahan bumi yang berbeda, menjadikan mereka maklum bahwa pernyataan yang sama sekali berbeda terhadap hal yang sama, adalah sama-sama benarnya.

Kesadaran tersebut di tataran tertentu, tidaklah sederhana lagi. Ilmu, "Si Malin Kundang Minus Kutukan dari Filsafat", adalah genesis kesadaran itu. Filsafat belajar dari informasi-informasi ilmu, untuk teguh dan tegar mencintai kebenaran, tanpa pernah berikrar memiliki kebenaran itu. Ilmu astronomi atau geografi membantu filsafat untuk menyatukan kebenaran-kebenaran berbeda dari contoh di atas. Tentu saja, ilmu juga mengidap sindrom yang sama dengan filsafat, bahwa kebenaran itu untuk dicintai, bukan dimiliki. Dengan kalimat yang lebih tegas, kebenaran itu relatif. Kerelatifan itu mohon tidak disamakan dengan ketidakpastian begitu saja, sebab muara kebenaran filsafat (maupun ilmu), sebenarnya adalah kebenaran mutlak. Ibarat sungai dari mata air yang berbeda-beda, bertemu di samudra pelumat berbagai air sungai hingga warna, rasa, bau, dan kadar zat-zat air dari berbagai sungai itu, luruh dalam kemanunggalan samudra. Itupun, kita belum memasukkan perbincangan tentang sumbangan air hujan, air limbah, atau air gletser. Kerelatifan kebenaran filsafat (dan ilmu), lebih tepat dimaknai sebagai kecintaan yang tiada ujung, hingga kecintaan itu bermuara di samudra kebenaran. Samudra yang dengannya air di sungai-sungai berhenti di sebut "air sungai"; samudra yang karenanya air menemukan arti hakikinya sebagai air, tanpa kontaminasi warna, rasa, bau, dan zat-zat yang membaur; samudra yang "diandaikan" oleh air-air itu atau "diimani" adanya...

Saya tadi mengatakan "...mencintai kebenaran, tanpa pernah berikrar memiliki kebenaran..". Apa maksudnya? Sesungguhnya, jawaban terhadap hal itu sekaligus juga merupakan penjelasan dari frase judul tulisan ini: "panggilan kebenaran". Mengadopsi "art of loving"-nya Erich Fromm, mencintai tidak sama dengan memiliki, meskipun salah satu pilihan lanjutan dari "mencintai", bisa saja dengan "memiliki". Untuk filsafat (dan ilmu), mencintai berarti menjadi, bukan memiliki (love is being, not having). Karakter manipulatif demi tujuan yang seluhur apapun, selama di luar konteks kebenaran, disingkirkan dari atribusi istilah "menjadi" sebagai definisi mencintai kebenaran ini. Filsafat (dan ilmu) membersihkan diri dari bias-bias kekentalan subjektivitas, meskipun titik keberangkatan dan pengguna akhirnya adalah terdiri dari subjek-subjek juga. Pertanyaannya, bisakah? Sedikit didukung pernyataan Einstein yang membantah komprehensivitas dari objektivitas peneliti Newtonian, saya jawab: tidak bisa, tetapi selalu berupaya seperti itu. Hal ini dengan mudah bisa mengingatkan kita pada pengandaian "mengejar bayangan sendiri". Perbedaannya, filsafat (dan ilmu) "mengimani" bahwa penghindaran dari bias subjektivitas itu harus selalu diandaikan ada, semata-mata untuk memperjuangkan salah satu ciri khas kebenaran yang tidak tunduk pada kepentingan atau perspektif bias dari subjek (filsuf/ilmuwan). Dengan demikian, "panggilan kebenaran" filsafat (dan ilmu) yang direspon positif atas nama cinta ini, sesungguhnya dalam perjalanannya bersifat utopis (dalam arti kebenaran mutlak tidak pernah bisa dicapai), namun memang begitulah hakikat filsafat: mencintai kebenaran yang selamanya tidak pernah dimilikinya. Filsuf adalah lover of wisdom (sebagaimana kata Phytagoras: philosophos), bukan owner of wisdom.