Belenggu Kebebasan
Seingatku, penulis pertama yang mengisi otakku dengan pernyataan bahwa penyakit kronis patologis jaman sekarang adalah sulit berkata "tidak", adalah Erich Fromm. Keterbelengguan manusia dalam kungkungan pergaulan, gaya hidup, dan juga rutinitas, tampaknya memang tengah menjangkiti masyarakat ini. Kebebasan - membalik argumen Fromm - dimaknai secara terpotong sebagai "bebas untuk..", tetapi kerap kali tidak "bebas dari..". Jika Fromm sudut pandangnya lebih sebagai seorang patolog sosial kekirian, saya mengambil argumen spiritualitas sebagai tolok ukur menyatakan kebalikan dari konsep kebebasan Fromm itu.
Penjelasan saya simpel saja. Orang modern dengan segala macam modalitasnya (uang, jaringan, kekuasaan, pengetahuan) merasa "bebas" untuk melakukan dan bertindak apa saja, dan bahkan merasa bebas "dari" kungkungan apa saja (adat lama, kemiskinan, kebodohan, penjajahan, bahkan agama). Untuk konsep bebas yang pertama (bebas untuk..), saya sepakat dengan Sartre - eksistensialis kondang - bahwa memang manusia sekarang semakin bebas untuk apa saja pada garis kemungkinan individualnya. Maksud saya, misalnya orang Indonesia bebas untuk apa saja selama tidak membentur hak kebebasan orang lain untuk menggunakan jalan raya atau mengakses sumber-sumber daya. Kebebasan semacam ini patut diapresiasi positif sebagai jarak ontologis ternyaman dalam sejarah hubungan manusia dengan alam dan berbagai kekuatan adikodrati yang dipercayai. Kita acapkali latah menyebutnya "kebebasan yang bertanggungjawab". Alam (termasuk batas potensi badaniahnya) atau apalagi kekuatan adikodrati (Tuhan atau kekuasaan mistik lain) tidak lagi membelenggu secara berlebihan seperti masa-masa mitos mendominasi, tetapi manusia menyentuh alam dan kekuatan adikodrati itu sebagai semacam penerimaan nyaman mereka bahwa di situlah batas-batas kebebasan yang sesungguhnya. Tidak ada yang membelenggu manusia kecuali batas-batas kebebasan itu sendiri yang non-human.
Sebenarnya menarik apa yang difilsafatkan Merleau-Ponty dalam fenomenologi tubuhnya bahwa justru tubuhlah yang secara primordial memegang kendali kebebasan mutlak, bahkan tanpa batas. Saat tubuh - dia ambil istilah persepsi, lalu kemudian daging - menyentuh realitas di tahap pra-reflektif, terjadilah chiasmus, keterjalinan tubuh dan dunia sebagai kesatuan primordial yang sekaligus menandakan apa yang tadi saya sebut kebebasan mutlak. Atau, jika boleh saya simpulkan pemikiran Merleau-Ponty ini, justru pikiran manusialah yang segera meluluhlantakkan kebebasan mutlak ini ke jurang terdalam eksistensial manusia. Pikiran atau kesadaran begitu muncul (saya setuju istilah intensional arc dari Merleau-Ponty untuk transmisi pra-reflektif ke reflektif) sesegera itu pula kebebasan primordial tadi terlempar jatuh. Lalu manusia mengenangnya sebagai penggalan-penggalan konsep kebebasan versi kesadaran (seperti juga tulisan ini). Meskipun agak absurd membicarakan hal-hal pra-reflektif dengan cara refleksi seperti ini, tetap saja manusia memiliki berkah tak terhingga mampu menyadari/merefleksikan apa saja yang pra-reflektif dari kediriannya.
Jika "konsep kebebasan" yang saya teruskan dari Merleau-Ponty ini sudah dipahami benar, maka kalimat saya di paragraf sebelum ini menjadi kurang bermakna, bahkan absurd, bahwa "tidak ada yang membelenggu manusia kecuali batas-batas kebebasan itu sendiri yang non-human". Betapa kemudian kebebasan yang sesungguhnya justru dibatasi oleh konsep tentang kebebasan itu sendiri! Okelah, saya mengabaikan keabsurdan ini, tetapi saya mencoba mengambil "intinya" sebagai dasar argumentasi saya bahwa selama-lamanya manusia dalam kesadarannya, tidak akan pernah "bebas dari..", bahkan juga "bebas untuk..". Berbeda dengan Sartre yang berteriak "orang lain adalah neraka", saya mengutuk bebasnya manusia ini atas dasar apa yang sudah saya sebut di atas: pikiranlah yang meluluhlantakkan kebebasan.
Apakah saya terdengar sedang berkata-kata sebagai seorang yogi atau spiritualis mistik? Bisa jadi, jika anda di saat yang sama juga mendengarkan Merleau-Ponty sebagai sedang menyentuh tahap mistik ini. Karena memang saya sedang meneruskan simpul filsafat Merleau-Ponty. Pemberontakan Merleau-Ponty memang "hanya" dengan meneguhkan bahwa "aku adalah tubuhku", "tubuhku adalah aku", untuk menggantikan nalar mistik yang lazim kita ikrarkan, bahwa "aku adalah jiwaku". Justru pemberontakan Merleau-Ponty inilah yang sebenarnya sedang saya baca sebagai Revolusi Copernican ke-3 setelah Kopernikus sendiri dan Immanuel Kant. Bukan tubuh yang harus dipenjara dihina dinistakan, tetapi justru pikiranlah yang menjadi biang kerok keterbelengguan manusia. Biang kerok yang dikutuk untuk kita pergunakan sebagai berkah! Biang kerok yang disyukuri keberadaannya sehingga saya bisa menulis seperti ini. Biang kerok yang sebenarnya bisa baik, bisa suci, sebaik dan sesuci tubuh!
Pada titik ini, saya sepenuhnya menegaskan bahwa - sekali lagi - manusia selama-lamanya tidak akan pernah bebas dalam arti sesungguhnya, selama manusia itu sadar. Kebebasan yang dikonsepsikan saat sadar, adalah kebebasan yang terbatas. Dan apabila kebebasan itu ada batasnya, maka bukankah sudah hilang eksistensi dari bebas itu? Ini artinya, kebebasan dalam arti yang disadari, adalah absurd, konsep yang bernilai nihil. Kebebasan seharusnya bebas, tidak berbatas. Entah batas itu kita contohkan dengan manusia lain, alam, atau kekuatan adikodrati.
Yang menarik, jika kita menelusuri apa ada entitas yang dalam kesadarannya kita yakini sebagai entitas bebas sebagaimana kesadaran mutlak pra-reflektif itu, maka dalam sejarah eksistensi, permenungan dan pemikiran manusia, Tuhan adalah Sang Entitas Bebas itu. Danah Zohar dan Ian Marshall dalam "Spiritual Quotient", sebenarnya sudah meraba wilayah itu, tetapi mereka hentikan sekonyong-konyong ketika menyadari bahwa "medan hampa kuantum" yang merupakan wilayah energi tanpa batas itu, sesungguhnya harus dibahasakan secara spiritual, tidak sekedar fisikal. Sampai di sini, saya akan sedikit menyeberang ke pemikiran spiritual mistikus saya, bahwa harus ada yang berani berbicara metabahasa, tidak tersekat-sekat antara bahasa sastra, ilmu, agama, apapun itu. Bukankah saya membicarakan tentang kebebasan? hehe... Dengan demikian, sesaat saya bisa anda sebut sebagai penulis anonim: bukan filsuf, bukan ilmuwan, bukan agamawan, apalagi sastrawan...
Insyaallah bersambung...
25 Juli 2015
22 November 2014
PANGGILAN KEBENARAN (1)
Saya sedang berfilsafat. Anda pembaca, ketika membaca terus tulisan saya ini, juga sedang berada di kawasan filsafat. Suatu kawasan yang acapkali jauh dari radar kerumunan kita, tetapi sekaligus sebenarnya, sangat dekat dengan pilihan-pilihan kata kita, pilihan-pilihan diksi kita, pilihan-pilihan sikap kita, pilihan-pilihan "keakuan" kita, bahkan pilihan-pilihan hidup dan mati kita. Di kawasan filsafat ini, saya mengimani, tidak ada satupun rambu-rambu yang secara hakiki ada, kecuali petunjuk arah menuju KEBENARAN. Dan petunjuk itu, masing-masing kita sendiri yang mengadakan dan menegakkannya, entah unik ataupun sama dengan rambu milik orang lain.
Filsafat adalah jalan menuju kebenaran, bukan jalan ("dari") kebenaran. Filsafat bisa saja "berada di atas" kebenaran, bisa juga tidak. Filsafat bisa saja menghasilkan kebenaran, bisa juga tidak. Filsafat bisa berarti membenarkan suatu kebenaran, tetapi lebih sering menyalahkan kebenaran lama. Filsafat saya dan filsafat anda, bisa saja sama-sama benar, bisa saja sama-sama salah, atau bisa saja salah satu di antara kita yang benar. Apapun pendapat anda tentang filsafat, saya taklid kepada Phytagoras, bahwa filsafat selalu mencintai kebenaran, mencintai kebijaksanaan. Dan bukankah panggilan cinta saya terhadap kebenaran sama dengan panggilan cinta anda terhadap kebenaran (meskipun mungkin kadarnya berbeda)? Bukankah pula, sama-sama mencintai kebenaran dari suatu hal, bisa menghasilkan pernyataan kebenaran yang berbeda dari hal itu? Contoh: Orang Amerika, bisa besaksi sejujur-jujurnya (karena cintanya pada kebenaran) bahwa "sekarang tepat tengah hari", berbeda dari kesaksian orang Indonesia yang juga mencintai kebenaran? Sesederhana itu... Kesadaran posisi di belahan bumi yang berbeda, menjadikan mereka maklum bahwa pernyataan yang sama sekali berbeda terhadap hal yang sama, adalah sama-sama benarnya.
Kesadaran tersebut di tataran tertentu, tidaklah sederhana lagi. Ilmu, "Si Malin Kundang Minus Kutukan dari Filsafat", adalah genesis kesadaran itu. Filsafat belajar dari informasi-informasi ilmu, untuk teguh dan tegar mencintai kebenaran, tanpa pernah berikrar memiliki kebenaran itu. Ilmu astronomi atau geografi membantu filsafat untuk menyatukan kebenaran-kebenaran berbeda dari contoh di atas. Tentu saja, ilmu juga mengidap sindrom yang sama dengan filsafat, bahwa kebenaran itu untuk dicintai, bukan dimiliki. Dengan kalimat yang lebih tegas, kebenaran itu relatif. Kerelatifan itu mohon tidak disamakan dengan ketidakpastian begitu saja, sebab muara kebenaran filsafat (maupun ilmu), sebenarnya adalah kebenaran mutlak. Ibarat sungai dari mata air yang berbeda-beda, bertemu di samudra pelumat berbagai air sungai hingga warna, rasa, bau, dan kadar zat-zat air dari berbagai sungai itu, luruh dalam kemanunggalan samudra. Itupun, kita belum memasukkan perbincangan tentang sumbangan air hujan, air limbah, atau air gletser. Kerelatifan kebenaran filsafat (dan ilmu), lebih tepat dimaknai sebagai kecintaan yang tiada ujung, hingga kecintaan itu bermuara di samudra kebenaran. Samudra yang dengannya air di sungai-sungai berhenti di sebut "air sungai"; samudra yang karenanya air menemukan arti hakikinya sebagai air, tanpa kontaminasi warna, rasa, bau, dan zat-zat yang membaur; samudra yang "diandaikan" oleh air-air itu atau "diimani" adanya...
Saya tadi mengatakan "...mencintai kebenaran, tanpa pernah berikrar memiliki kebenaran..". Apa maksudnya? Sesungguhnya, jawaban terhadap hal itu sekaligus juga merupakan penjelasan dari frase judul tulisan ini: "panggilan kebenaran". Mengadopsi "art of loving"-nya Erich Fromm, mencintai tidak sama dengan memiliki, meskipun salah satu pilihan lanjutan dari "mencintai", bisa saja dengan "memiliki". Untuk filsafat (dan ilmu), mencintai berarti menjadi, bukan memiliki (love is being, not having). Karakter manipulatif demi tujuan yang seluhur apapun, selama di luar konteks kebenaran, disingkirkan dari atribusi istilah "menjadi" sebagai definisi mencintai kebenaran ini. Filsafat (dan ilmu) membersihkan diri dari bias-bias kekentalan subjektivitas, meskipun titik keberangkatan dan pengguna akhirnya adalah terdiri dari subjek-subjek juga. Pertanyaannya, bisakah? Sedikit didukung pernyataan Einstein yang membantah komprehensivitas dari objektivitas peneliti Newtonian, saya jawab: tidak bisa, tetapi selalu berupaya seperti itu. Hal ini dengan mudah bisa mengingatkan kita pada pengandaian "mengejar bayangan sendiri". Perbedaannya, filsafat (dan ilmu) "mengimani" bahwa penghindaran dari bias subjektivitas itu harus selalu diandaikan ada, semata-mata untuk memperjuangkan salah satu ciri khas kebenaran yang tidak tunduk pada kepentingan atau perspektif bias dari subjek (filsuf/ilmuwan). Dengan demikian, "panggilan kebenaran" filsafat (dan ilmu) yang direspon positif atas nama cinta ini, sesungguhnya dalam perjalanannya bersifat utopis (dalam arti kebenaran mutlak tidak pernah bisa dicapai), namun memang begitulah hakikat filsafat: mencintai kebenaran yang selamanya tidak pernah dimilikinya. Filsuf adalah lover of wisdom (sebagaimana kata Phytagoras: philosophos), bukan owner of wisdom.
Label:
filsafat,
ilmu,
kebenaran,
lover of wisdom,
panggilan,
phytagoras
26 Mei 2008
Dehumanisasi Sbg Resultan Birokrasi Pendidikan
Pendidikan itu memanusiakan manusia. Itu kataku dengan menyitir Paulo Freire tentang Conscientizacao, dan apalah aku, ketika berhadapan dengan realitas guru - yang notabene adalah tokoh pelestari semangat kreativitas ilmiah paling grassroot - vis a vis gurita lembaga kapitalis yang menyeruak di relung sendi pendidikan tanah air. Sitiranku diperunyam dengan fakta seputar ribuan gedung sekolah rusak, detak jantung UAN, sampai sindiran "sekolah berkelas internasional tapi tak berkelas rakyat". Memanusiakan manusia adalah menghargai keunikan yang holistik: ya rasionya, ya hati perasaannya, ya spiritualitas-mistiknya, ya ototnya, ke-Aku-annyalah..!
Semester kemarin aku ngajar di D4 Kebidanan Dr Soetomo matakuliah Humaniora dan Filsafat Ilmu. Melalui mata kuliah itu aku ikut belajar bahwa humaniora memang semakin terpinggirkan, tetapi ibu ilmu menangisinya. Pendidikan dan ilmu sama-sama kehilangan separuh nafasnya ketika humaniora pamit tersingkir. Siapa sih yang menyingkirkan? Sistem pendidikan formal yg menurutku paling bertanggungjawab. Dan itu memanifestasi dalam birokrasi pendidikan yang berwajah bolah ruwet. Ruwet dengan neoliberalis-kapitalis: "orang miskin dilarang masuk kampus". (eit.. omong2, ini BBM dah 2 hari naik tapi aku belum mood merefleksinya).
Ketika wajah kemanusiaan pendidikan tersamar dan beralih wujud jadi robot atau cyber creature, teknologi dan ilmu dengan pongah akan menjamah dan mengotori kemurahan alam pada manusia. Karena segelintir policy maker, jadilah yang lain korban kebiadaban ciptaan "orang-orang pandai".
Menurutku, filsafat harus bangkit dari keterlenaan sok "rigorous" yang menjadikannya kering dan tak lagi philein sophos..
menurutku, alienasi ilmu dan pendidikan dari humanioranya akan mendekatkan pada dehumanisasi massal yang makin mencekik kepemimpinan manusia atas alam..
Tapi,
Toh Tuhan sudah bosan dengan kita, kata Ebiet G Ade.
Semester kemarin aku ngajar di D4 Kebidanan Dr Soetomo matakuliah Humaniora dan Filsafat Ilmu. Melalui mata kuliah itu aku ikut belajar bahwa humaniora memang semakin terpinggirkan, tetapi ibu ilmu menangisinya. Pendidikan dan ilmu sama-sama kehilangan separuh nafasnya ketika humaniora pamit tersingkir. Siapa sih yang menyingkirkan? Sistem pendidikan formal yg menurutku paling bertanggungjawab. Dan itu memanifestasi dalam birokrasi pendidikan yang berwajah bolah ruwet. Ruwet dengan neoliberalis-kapitalis: "orang miskin dilarang masuk kampus". (eit.. omong2, ini BBM dah 2 hari naik tapi aku belum mood merefleksinya).
Ketika wajah kemanusiaan pendidikan tersamar dan beralih wujud jadi robot atau cyber creature, teknologi dan ilmu dengan pongah akan menjamah dan mengotori kemurahan alam pada manusia. Karena segelintir policy maker, jadilah yang lain korban kebiadaban ciptaan "orang-orang pandai".
Menurutku, filsafat harus bangkit dari keterlenaan sok "rigorous" yang menjadikannya kering dan tak lagi philein sophos..
menurutku, alienasi ilmu dan pendidikan dari humanioranya akan mendekatkan pada dehumanisasi massal yang makin mencekik kepemimpinan manusia atas alam..
Tapi,
Toh Tuhan sudah bosan dengan kita, kata Ebiet G Ade.
19 Mei 2008
Kreativitas dan Birokrasi
Aku baru saja baca Basis edisi..
Mutiara andalas dalam majalah "gaek" itu mengungkap kesakralan pendidikan yang sering justru dinodai oleh keribetan birokrasi/institusi kependidikan. Baru aja kemarin ada mahasiswa Unit Kreativitas Ilmiah UNESA yg menggugah naluri ke-dosen-an saya. Kita membela kreativitas ataukah birokrasi?
Menyederhanakan memang. Tapi Peter Hudgson sang teolog pendidikan juga menyeringai begitu mendengar pengebirian dan penyekatan subjek/objek didik atas nama institusi pendidikan. Jerat-jerat kapitalisme dan liberalisme pendidikan telah mementahkan segala alasan moral. Kita terlibat dengan mafia uang yang telah menenggelamkan Indonesia dan negara-negara senasib di akhir abad 20 kemarin. Kita telah menumbalkan Moses Gatut Kaca, dkk demi menyumpal mulut rakus spionase maha negara: tak ada nafas untuk kreativitas baru, kecuali mengikutsertakan mafia uang yang kan menjerat sampai bini dan cucumu. Ada secuil dosa mendengar tangis mahasiswa yang merengek-rengek maaf ke dosen pembinanya (aku sebenarnya juga di-SK-kan pembina UKIM) yang tersinggung berat dengan pelanggaran kreativitas dekil. Memalsu tanda tangan itu dosa, nak. Tak ada maaf untuk itu. Syirik. Dan sim salabim.. kembali niat kreativitas mahasiswa tersungkur diharibaan dosen yang santun dan berwibawa. ya udahlah, panta rhei. Mengalir aja terus mahasiswaku dan teman-teman dosenku. kita adalah mangsa dialektika Hegel yang niscaya kan merambat ke pembaruan dan perubahan. pengalaman adalah guru terbaik. Tak hanya untuk mahasiswa, tapi juga dosen, yg dulunya juga mahasiswa..!!
Mutiara andalas dalam majalah "gaek" itu mengungkap kesakralan pendidikan yang sering justru dinodai oleh keribetan birokrasi/institusi kependidikan. Baru aja kemarin ada mahasiswa Unit Kreativitas Ilmiah UNESA yg menggugah naluri ke-dosen-an saya. Kita membela kreativitas ataukah birokrasi?
Menyederhanakan memang. Tapi Peter Hudgson sang teolog pendidikan juga menyeringai begitu mendengar pengebirian dan penyekatan subjek/objek didik atas nama institusi pendidikan. Jerat-jerat kapitalisme dan liberalisme pendidikan telah mementahkan segala alasan moral. Kita terlibat dengan mafia uang yang telah menenggelamkan Indonesia dan negara-negara senasib di akhir abad 20 kemarin. Kita telah menumbalkan Moses Gatut Kaca, dkk demi menyumpal mulut rakus spionase maha negara: tak ada nafas untuk kreativitas baru, kecuali mengikutsertakan mafia uang yang kan menjerat sampai bini dan cucumu. Ada secuil dosa mendengar tangis mahasiswa yang merengek-rengek maaf ke dosen pembinanya (aku sebenarnya juga di-SK-kan pembina UKIM) yang tersinggung berat dengan pelanggaran kreativitas dekil. Memalsu tanda tangan itu dosa, nak. Tak ada maaf untuk itu. Syirik. Dan sim salabim.. kembali niat kreativitas mahasiswa tersungkur diharibaan dosen yang santun dan berwibawa. ya udahlah, panta rhei. Mengalir aja terus mahasiswaku dan teman-teman dosenku. kita adalah mangsa dialektika Hegel yang niscaya kan merambat ke pembaruan dan perubahan. pengalaman adalah guru terbaik. Tak hanya untuk mahasiswa, tapi juga dosen, yg dulunya juga mahasiswa..!!
Langganan:
Postingan (Atom)