Liburan akhir semester gasal 2017/2018 memang cukup lama. Desember akhir sampai Februari. Beberapa mahasiswa chat saya betapa mereka bosan dengan liburan dan bingung cari kesibukan atau menikmati kos-kos an daripada ngendon di rumah asal yang "cuma" sekitar probolinggo atau kediri. Seharusnya sih, liburan berarti nge-charge sinapsis otak untuk kesiagaan datangnya trilyunan informasi neurotik perkuliahan di semester genap 2017/2018. Tetap saja, liburan berarti berlibur. Meskipun hanya dipenuhi suasana membantu emak masak di kampung.
Tetapi untuk sehari saja libur di liburan ini, aku harus sakit atau mbolos. Aku melanggar hukum deh, jika ga masuk antara senin-jumat. Pilihannya: ke kampus, tugas luar kota, ijin sakit, ijin mobil mbengkel, mbolos. Sidoarjo-surabaya sekitar 35 an kilo meter (PP 60an km) harus tetap kutempuh 5 kali seminggu jika tidak mau disebut "ijin" atau "mbolos", MESKIPUN di kampus hanya pindah tempat ngetik. Lebih sering lagi di kampus "hanya" silaturahmi dengan ngopi wal rokokan ber jam-jam. Sepertinya teman saya di Unair lebih nyaman dan bahagia. DIa pulang ke Yogya hampir sepanjang liburannya. PNS Unesa beda kali ya dengan PNS Unair.
Hari ini saya masih "liburan" di Yogya, di The Phoenix Hotel untuk ikut mereview - eh, membantu mereview atau bahkan hanya melihat proses review - terhadap mata kuliah daring dan/atau terbuka di 7 perguruan tinggi yg tergabung di IDB loan untuk e-learning. Selain itu juga ikut mengawal koordinasi integrasi LMS 7in1 ke laman SPADA (e-learningnya ristekdikti). Semalam sempat "jalan-jalan" 15 meter 😅 menyeberang untuk menikmati warung kucing. Itulah "liburan". Besok sabtu pagi sudah balik ke surabaya antar keluarga ke rumah mertua kediri. hehhe.. liburan ni yee..
Tetapi aku menikmati kok. Kelihatannya ga bener sih, aku yang pakar (karena doktor jeeeh....) filsafat tetapi jd komandan tim e-learning. Di tulisanku sebelumnya sudah kusinggung masalah ini. Syarat untuk menjalani hidup yang surgawi adalah menikmati..termasuk menikmati pekerjaan, lalu mengorientasikannya ke tujuan yang kita ideal/utopiakan. E-learning bukan kepakaranku, tetapi melalui ini aku bisa menyumbangkan sesuatu untuk umat. hehe..
Review e-mata kuliah daring inilah yang sekarang memusingkan kami. Betapa tidak. Awal tahun 2018 LMS Unesa - vi-learn.unesa.ac.id - bersama servernya terpapar serangan ransomware-wannacry dengannya rontoklah konten semua mata kuliah daring Unesa. Dosen harus mengunggah lagi satu per satu. Mudah-mudahan sebelum Maret (1,5 bulan lagi), minimal 16 mata kuliah daring sudah tampil optimal di kuliahdaring.ristekdikti.go.id. Melihat kondisi di Unesa yang kebanyakan "unggulan" mata kuliah daringnya ada di semester gasal, tentu dimaklumi jika aku 80% ga yakin bisa memenuhi tenggat Maret itu, apalagi dengan tamu yang bernama wannacry.
Aku, Wak Alim, dan Bowo Lee sekarang harus menjawab tantangan itu semua di hadapan reviewer, staf kemenristekdikti, dan PMU IDB. Bu Yuni sebagai WR 1 mungkin belum tahu betul kondisi parah ini. Perontokan by wannacry belum in official kulaporkan ke pejabat tinggi Unesa yang paling kenceng larinya ini. Padahal beliau sudah bertekad menggelontorkan dana dan pikiran untuk men-daring-kan unesa. Bih... semoga ada akselerasi perubahan signifikan di e-learning unesa.
Sekarang morning rain di yogya sudah berhenti. TV one masih menyiarkan berita-berita ringan seperti video asusila sesama jenis atau janji pemerintah menunrunkan harga beras. Aku menikmati instant coffee ditemani 234 premium dan salak hotel yang manis. Biarlah perjuangan kami di e-learning menjadi jejak samar. Belajar sembarang waktu sembarang tempat adalah tujuan pen-daring-an mata kuliah ini, semoga tahun ini sudah berjalan lancar. Unesa urutan ke-5 PT yang paling aktif di SPADA, semoga bisa terus bertahan dan meningkat. Viva vi-learn. Viva Unesa.
26 Januari 2018
24 Juli 2017
E-learning dan I-Boy
Keterlibatan saya di proyek e-learning Unesa berawal dari proyek IDB (Islamic Development Bank) di Unesa sejak tahun 2014. Saat itu boleh dikatakan awal dari perhatian serius saya terhadap teknologi di dunia pendidikan. Bagaimana tidak, teknologi telah sedemikian rupa merupa warna pendidikan, tidak hanya tentang e-learning tetapi juga menginfeksi media pembelajaran, menentukan bagaimana manusia masa kini belajar, dan bisa jadi bagaimana manusia mendefinisikan dirinya dalam kekinian.
E-learning (sebenarnya sudah lama di-Indonesia-kan sebagai kuliah daring) merupakan cara pembelajaran yang kini secara tendensius menggunakan jaringan internet sebagai fasilitator wajibnya.Artinya, e-learning yang tanpa jaringan internet (misalnya belajar dari radio atau televisi), tidak bisa memenuhi kriteria sebagai e-learning.Konsekuensinya, huruf "e" di depan "learning" tidak bisa lagi secara harfiah meloloskan pengartian e-learning sebagai pembelajaran elektronik. Harus ada jaringan internet untuk e-learning.
Kebutuhan dasar manusia generasi "i-boy" adalah internet, serupa dengan kebutuhan dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya dalam terminologi Maslow. I-Boy (saya adopsi dari film "I-Boy") sebenarnya hanya istilah yang menggantikan julukan generasi Z (atau Y?) yang tahun 2017 ini memasuki masa kegemilangannya sebagai referensi penyebutan generasi manusia-manusia wajib internet. I-Boy adalah setiap manusia yang kepaduan pemikiran, sikap, dan tindakannya sepenuhnya bersinergi dengan apa-apa yang terfasilitasi melalui jaringan internet. Belajar cara sujud dalam sholat yang benar, tidak aneh didapat bukan dari ulama atau kitab fiqh langsung tetapi dari situs-situs teks, animasi, multimedia, atau video. Belajar mananam kembangpun bisa dipelajari dari situs-situs internet, bukan langsung dari ahli botani dan buku-bukunya.
E-learning dengan demikian hanyalah satu di antara arah/bidang yang digeluti I-Boy. Di bidang ekonomi, hukum, militer, agama, pemerintahan, bahkan seksualitas bisa ditemukan I-Boy yang secara dramatis merubah definisi, perlakuan, dan konsekuensi dari cara lama bagaimana bidang-bidang kemanusiaan itu digelar di bumi yang sama. Semua hasrat kemanusiaan (atau kedirian manusia?) bisa muncul dan tersalur secara daring (online). Teknologi pendukung untuk itu juga sudah dapat diharapkan penuh untuk optimis terhadap datangnya masa-masa teknokrasi itu. Dan ini menyeret serta kebudayaan dan moralitas di kancah keniscayaan sejarah: bagaimana manusia siap tidak siap harus siap berpayung kehidupan dengan kubah raksasa bernama internet. (bersambung)
E-learning (sebenarnya sudah lama di-Indonesia-kan sebagai kuliah daring) merupakan cara pembelajaran yang kini secara tendensius menggunakan jaringan internet sebagai fasilitator wajibnya.Artinya, e-learning yang tanpa jaringan internet (misalnya belajar dari radio atau televisi), tidak bisa memenuhi kriteria sebagai e-learning.Konsekuensinya, huruf "e" di depan "learning" tidak bisa lagi secara harfiah meloloskan pengartian e-learning sebagai pembelajaran elektronik. Harus ada jaringan internet untuk e-learning.
Kebutuhan dasar manusia generasi "i-boy" adalah internet, serupa dengan kebutuhan dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya dalam terminologi Maslow. I-Boy (saya adopsi dari film "I-Boy") sebenarnya hanya istilah yang menggantikan julukan generasi Z (atau Y?) yang tahun 2017 ini memasuki masa kegemilangannya sebagai referensi penyebutan generasi manusia-manusia wajib internet. I-Boy adalah setiap manusia yang kepaduan pemikiran, sikap, dan tindakannya sepenuhnya bersinergi dengan apa-apa yang terfasilitasi melalui jaringan internet. Belajar cara sujud dalam sholat yang benar, tidak aneh didapat bukan dari ulama atau kitab fiqh langsung tetapi dari situs-situs teks, animasi, multimedia, atau video. Belajar mananam kembangpun bisa dipelajari dari situs-situs internet, bukan langsung dari ahli botani dan buku-bukunya.
E-learning dengan demikian hanyalah satu di antara arah/bidang yang digeluti I-Boy. Di bidang ekonomi, hukum, militer, agama, pemerintahan, bahkan seksualitas bisa ditemukan I-Boy yang secara dramatis merubah definisi, perlakuan, dan konsekuensi dari cara lama bagaimana bidang-bidang kemanusiaan itu digelar di bumi yang sama. Semua hasrat kemanusiaan (atau kedirian manusia?) bisa muncul dan tersalur secara daring (online). Teknologi pendukung untuk itu juga sudah dapat diharapkan penuh untuk optimis terhadap datangnya masa-masa teknokrasi itu. Dan ini menyeret serta kebudayaan dan moralitas di kancah keniscayaan sejarah: bagaimana manusia siap tidak siap harus siap berpayung kehidupan dengan kubah raksasa bernama internet. (bersambung)
Label:
E-learning,
I-Boy,
Internet
04 November 2016
Mengapa (Mahasiswa) Butuh Filsafat?
Filsafat di
kalangan masyarakat luas lebih dicirikan sebagai disiplin ilmu yang
pembahasannya cenderung abstrak dan hampir bisa dikatakan tidak ada ruang untuk
pemanfaatan secara praktis/langsung kecuali untuk kepentingan analisis dan pengembangan
keilmuan di dunia akademis. Louis O. Kattsoff
menyebut “ketidakpraktisan” filsafat ini dengan ungkapan “filsafat tidak
membuat roti”. Secara positif, dari ungkapan Kattsoff ini dapat diilustrasikan
lebih lanjut bahwa “membuat roti” merupakan muara hampir semua disiplin
ilmu-ilmu khusus untuk menunjukkan peran praktis ilmu dalam rangka
mengoptimalkan kerja otak dengan berorientasi pada kebermanfaatannya bagi
kehidupan manusia dalam menghadapi realitas. Apakah kemudian bisa dikatakan
bahwa filsafat tidak memiliki nilai kemanfaatan? Apakah benar sindiran sebagian
kalangan yang menyebut filsafat sebagai “kesibukan yang sia-sia”? Atau, dalam
koridor agama, filsafat justru menyesatkan spiritualitas-religius manusia?
Filsafat memang
tidak membuat roti, tetapi berperan dalam mempersiapkan tungkunya, membersihkan
wadah rotinya, apapun yang bisa dikategorikan sebagai “persiapan mendasar”
dalam membuat roti. William Durrant, senada
dengan Kattsoff, mengilustrasikan filsafat sebagai pasukan marinir yang turun
mendahului pasukan infanteri lain (ilmu-ilmu khusus) untuk mengamankan teritori
wilayah yang hendak diserbu. Ilustrasi tersebut dapat mengilhami pembaca, bahwa
ilmu dalam menciptakan kreasi-kreasi ilmiahnya sebenarnya berawal dan berproses
dari kejernihan dasar-dasar filosofis yang melandasinya.
Meskipun demikian
sejak akhir abad ke-20 sudah mulai muncul geliat para sarjana dan praktisi
filsafat untuk meluruskan dan memberikan tekanan praktis terhadap filsafat. Kemampuan
retorika yang merupakan konsekuensi penguasaan substansi dan kejelasan
argumentasi, merupakan salah satu aspek praktis filsafat yang sempat menarik
perhatian beberapa selebritis. Lou Marinoff adalah contoh salah seorang dari
praktisi filsafat ini yang berusaha “membumikan” filsafat (bisa dilihat dalam
buku The Consolations of Philosophy dan Plato Not Prozac: Applying Philosophy to Everyday
Problems) yang pada
intinya memotivasi praktisi filsafat seluruh dunia untuk menerapkan filsafat
sebagai terapi (konseling filsafat) untuk menangani problem keseharian.
Pembelajaran
filsafat (dengan berbagai tema, misalnya filsafat ilmu, filsafat pendidikan,
dan sebagainya) meskipun sudah diampu/dibimbing oleh dosen dengan kompetensi
keilmuan filsafat, peluang untuk “membingungkan” cenderung tinggi, khususnya
perkuliahan filsafat untuk mahasiswa dengan kompetensi utama kesarjanaannya
non-filsafat. Hal ini tidak hanya terkait dengan tingkat pemahaman logika
mahasiswa sebagai syarat kognitif utama perkuliahan filsafat, namun salah
satunya juga dipengaruhi oleh model penyampaian materi oleh dosen. Selain itu,
bahan perkuliahan filsafat (khususnya karya-karya para filsuf) memang
bertaburan istilah-istilah yang sering sukar dipahami. Hal ini juga menjadi
salah satu alasan, mengapa disiplin filsafat tidak disarankan untuk diberikan
sebagai bahan pembelajaran di sekolah menengah atau dasar (meskipun
dimungkinkan dengan berbagai pendekatan yang hati-hati). Keterampilan berlogika
dan frekuensi untuk membaca bacaan-bacaan yang mendukung memang sangat
disyaratkan agar mempermudah mahasiswa mengikuti perkuliahan filsafat. Buku ini
menyumbang upaya pengayaan bacaan filsafat.
Manfaat apa yang
bisa dipetik dari belajar filsafat, termasuk untuk mahasiswa yang tidak berada
di jurusan/fakultas filsafat? Hasilnya tentu tidak dapat diukur. Seorang dosen bernama N. Ferre yang sudah 30 tahun lebih
mengajar filsafat di Amerika Serikat mengatakan: “as a whole those who had studied philosophy in college were better
equipped to handle advanced thinking than
those who had not”. Studi filsafat dapat mempersiapkan mahasiswa dari
kompetensi keilmuan apapun untuk “handle
advanced thinking”. Mereka sanggup menempatkan problem-problem yang harus
ditangani dalam konteks yang lebih luas dan lebih mendalam. Mereka lebih
gampang menangkap inti persoalan dan tahu bagaimana membedakan hal penting dari
hal-hal sampingan. Mereka lebih peka terhadap nuansa-nuansa. Mereka lebih
sanggup merumuskan permasalahan dengan lebih jelas. Pendek kata, walaupun studi
filsafat tentu belum menjamin jawaban yang tepat bagi semua problem yang
dihadapi, namun seringkali ia dapat membantu menilai dan mensituasikan problem-problem
konkrit dengan lebih tepat dan matang. Kata John Henry Newman, filsafat dapat
menghasilkan “education of mind” (Bertens,
2005: 20). Saran Bertens kemudian, dosen pengajar filsafat tidak perlu memaksa
mahasiswa segera menangkap relevansi dari pengajaran filsafat.
Terlepas dari
pandangan awam tentang filsafat, sebenarnya secara historis filsafat menempati
posisi penting bagi kemunculan ilmu-ilmu khusus. Kelahiran filsafat di Miletos,
Yunani Kuno di sekitar abad ke-6 SM dicatat sejarah
sebagai fajar baru penekanan rasionalitas (dan menggeser tradisi mitos) dalam
menjelaskan permasalahan sehari-hari. Ilmu-ilmu lain muncul kemudian sebagai
kebutuhan spesifikasi penyelidikan filosofis yang amat beragam. Oleh karena
itu, filsafat sering disebut sebagai mother of science (induknya ilmu). Secara singkat, filsafat mencakup
“segalanya”. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut
“sebelum” karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat
dan disebut “sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi
pertanyaan tentang batas-batas dari kekhususannya.
Dalam koridor
akademis modern, belajar filsafat bisa dengan tiga kategori:
1. Belajar
filsafat dengan cara historis – berdasar kurun waktu tertentu
2. Belajar
filsafat dengan cara sistematis – spesialisasi cabang-cabang filsafat tertentu
3. Belajar
prinsip-prinsip filsafat – pola yang digunakan.
Belajar filsafat berarti belajar
menangkap esensi-esensi dari apapun topik pembicaraannya. Belajar filsafat –
meminjam istilah Damardjati Supadjar - merupakan suatu langkah “nawangsari”,
menerawang sari/inti/esensi, melaluinya subjek menemukan dirinya bersama-sama
dengan dunianya dalam suatu radikalitas pemahaman yang utuh dan menyeluruh. Penjelasan tentang hal-hal ini bisa didalami di bagian-bagian
berikutnya bab ini.
Istilah Filsafat
(Indonesia) bisa dilacak etimologinya dari istilah Arab falsafah, atau
bahasa Inggris philosophy yang berasal dari bahasa Yunani, philosophia
yang terbentuk dari dua akar kata: philein (mencintai) dan sophos
(bijaksana), atau juga philos (teman) dan sophia (kebijaksanaan).
Filsafat adalah “love of wisdom”,
cinta kebijaksanaan. Orang yang cinta kepada pengetahuan atau kebijaksanaan
disebut filsuf (Indonesia), philosopher (Inggris), failasuf (Arab),
atau seperti yang disebutkan Pythagoras (572-497 SM) dalam bahasa Yunani
Kuno, philosophos (lover of
wisdom). Sesuatu ungkapan atau teks yang berbicara dalam konteks filsafat,
diistilahkan sebagai “filosofis (philosophical)”.
Tidak jarang
ditemui penggunaan kata “pandangan hidup” (worldview),
atau “hikmah” (dalam arti yang sejenis wisdom).
Menarik juga untuk dicatat bahwa kata "hikmat" bahasa Inggerisnya
adalah "wisdom", dengan akar kata "wise" atau
"wissen" (bahasa Jerman) yang artinya mengetahui. Dalam bahasa
Norwegia itulah "viten", yang memiliki akar sama dengan kata bahasa
Sansekerta "vidya" yang diindonesiakan menjadi "widya".
Kata itu dekat dengan kata "widi" dalam "Hyang Widi" = Tuhan.
Kata "vidya" pun dekat dengan kata Yunani "idea",
yang dilontarkan pertama kali oleh Socrates/Plato dan digali terus-menerus oleh para filsuf
sepanjang segala abad.
Filsafat sejati
selamanya akan terus mencari kebijaksanaan tanpa kenal lelah. Aktivitas yang
khusus bagi filsafat adalah bertanya. Dengan berfilsafat, seseorang tidak
memperoleh pengetahuan (erudition)
namun hanya memperdalam ketidaktahuan saja. Filsafat, meminjam istilah Nicolaus
Cusanus, mengantar kita kepada docta
ignorantia (ketidaktahuan
yang terpelajar). Contoh historis tentang konsepsi filsafat ini adalah Socrates, bagaimana ia mempraktekkan
seni kebidanan (maieutika techne) hanya dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan terus menerus. Perlu diakui bahwa dalam
sejarah filsafat modern justeru filsuf-filsuf yang membaharui
pemikiran filosofis seringkali tidak harus dicari dari kalangan akademis,
misalnya dari seorang profesor filsafat. Immanuel Kant yang berstatus profesor filsafatpun,
mengembangkan pemikiran barunya yang sangat berpengaruh di luar jalur akademis
resmi. Kant berujar "tidak mungkin orang belajar filsafat; orang hanya
dapat belajar berfilsafat”. Apabila orang yang ahli filsafat dalam arti
menguasai sistem-sistem, konsep-konsep, dan diskusi-diskusi menyangkut filsafat
disebut filsuf, lebih tepatnya filsuf akademis, tetapi filsuf akademis atau
profesor filsafat belum tentu sama dengan filsuf sejati: “terdapat jauh lebih
banyak profesor filsafat daripada filsuf”
(Bertens, 2005: 16-17).
Karl Popper
(1902-?) menulis "semua orang adalah filsuf, karena semua mempunyai salah
satu sikap terhadap hidup dan kematian. Ada yang berpendapat bahwa hidup itu
tanpa harga, karena hidup itu akan berakhir. Mereka tidak menyadari bahwa
argumen yang terbalik juga dapat dikemukakan, yaitu bahwa kalau hidup tidak
akan berakhir, maka hidup adalah tanpa harga; bahwa bahaya yang selalu hadir
yang membuat kita dapat kehilangan hidup sekurang-kurangnya ikut menolong kita
untuk menyadari nilai dari hidup".
Mengingat berfilsafat adalah berfikir tentang hidup, dan
"berfikir" = "to think" (Inggeris) = "denken"
(Jerman), maka - menurut Heidegger (1889-1976 ), dalam "berfikir"
sebenarnya kita "berterimakasih" = "to thank" (Inggris) =
"danken" (Jerman) kepada Sang Pemberi hidup atas segala anugerah
kehidupan yang diberikan kepada kita.
Dardiri (1986:
10) cenderung membicarakan arti filsafat dari dua segi, segi pengetahuan dan
segi aktivitas akal manusia. Dari segi pengetahuan filsafat adalah jenis
pengetahuan yang berusaha mencari hakikat dari segala sesuatu yang ada.
Sedangkan bila dilihat dari segi aktivitas akal, filsafat adalah suatu
aktivitas akal manusia yang secara radikal hendak mencari keterangan terdalam
segala sesuatu yang ada. Menurut hemat penulis, pemahaman di bidang filsafat
juga bisa ditengarai dalam tiga hal: filsafat dipahami sebagai metode
penalaran, filsafat sebagai pandangan hidup/sikap, dan filsafat sebagai produk
atau karya filsuf-filsuf terdahulu (teori atau sistem pemikiran). Sedangkan
Harold H. Titus (dalam Dardiri, 1986: 11) mewanti-wanti agar dalam
mendefinisikan filsafat perlu dilihat juga filsafat sebagai kumpulan masalah.
Artinya, para filsuf sejak dahulu sampai sekarang bergumul dengan
persoalan-persoalan seperti kebenaran, keadilan, dan keindahan. Filsafat
sebagai kumpulan masalah ini mengafirmasi pendapat Gabriel Marcel bahwa manusia adalah makhluk problematik,
makhluk yang senantiasa berhadapan dengan berbagai permasalahan.
Gambar
1.1. The Death of Socrates.
Lukisan terkenal
Jacques Louis David yang menlukiskan kisah terkenal filsafat tentang kesetiaan
kepada kebenaran sebagaimana dilakukan Socrates.
Justru karena
dilatarbelakangi oleh kodrat sebagai makhluk problematik ini, manusia dengan
akalnya homo viator, peziarah di muka
bumi. Kodrat sebagai pengelana ini pada gilirannya menempatkan pengetahuan
sebagai bekal paling penting; inilah manusia sebagai homo sapiens, atau kata Aristoteles, manusia sebagai animal rational, makhluk yang berpikir,
makhluk rasional. Kedewasaan seorang manusia, berbanding lurus dengan
kemampuannya mengurai dan mengatasi berbagai permasalahan dengan mengedepankan
rasio sebagai instrumen analisator utamanya.
Pemahaman kodrat
diri ini mengindikasikan pentingnya filsafat sebagai disiplin yang acapkali
mempersoalkan hal-hal mandasar seperti “siapa aku?”, “untuk apa aku hidup?”,
“apakah Tuhan benar-benar ada?”, dan berbagai persoalan eksistensial lain yang
selalu relevan dipertanyakan sepanjang peradaban manusia. Filsafat membantu seseorang mengerti tentang diri sendiri dan dunia, karena
filsafat mengajarkan bagaimana bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar
seperti tersebut di atas.
Pergulatan yang
berupa pemikiran/permenungan/refleksi dalam menghadapi realitas yang merupakan
medan raksasa permasalahan tersebut, mengarahkan pendefinisian filsafat yang berbeda
dari disiplin pengetahuan tentang realitas lainnya (seperti ilmu, agama, atau
seni). Secara terminologis, penulis menggunakan definisi filsafat sebagai
kegiatan/hasil
pemikiran/permenungan mendalam dan radikal yang menyelidiki sekaligus mendasari
segala sesuatu yang berfokus pada makna di balik kenyataan/teori yang ada untuk
disusun dalam sebuah sistem pengetahuan rasional.
Perenungan
kefilsafatan merupakan percobaan untuk menyusun sebuah sistem pengetahuan
rasional yang memadai untuk memahami dunia maupun diri sendiri. Filsafat adalah
scientia rerum per causas ultimas --
pengetahuan mengenai hal ikhwal berdasarkan sebab-musabab yang paling dalam.
29 Agustus 2016
Tubuh yang Mendidik: Revolusi Kopernikan Pendidikan Jasmani
Tubuh yang Mendidik:
Revolusi Kopernikan Pendidikan Jasmani
Dr. Made Pramono, M.Hum.
FIK Universitas Negeri Surabaya
Abstrak
Tubuh
adalah kondisi yang memungkinkan pengalaman dan pengetahuan, dan bukan hanya
alat atau objek yang terpisah dari diri yang sesungguhnya yang berupa jiwa. Jika
filsafat pendidikan jasmani selama ini hanya menekankan proses “mendidik tubuh”
melalui berbagai wawasan kognitif, afektif, maupun psikomotorik, maka
reinterpretasi restoratif ontologis dan epistemologis bahwa pendidikan jasmani
itu “mendidik melalui tubuh” perlu di(re)aktualisasikan. Pada tataran
aksiologis, pengejawantahan (re)aktualisasi tersebut bahkan mengarah pada
revolusi pendidikan jasmani yang meneguhkan eksistensi tubuh sebagai subjek
yang mendidik. Kelaziman paradigmatik bahwa “aku adalah jiwaku” sedangkan tubuh
dipersepsi dan diperlakukan sebagai objek, cukup mempersulit pemahaman bahwa
tubuh secara primordial mendidik diri dan orang lain dengan berbagai sensitivitas,
estetik, etik, politis, bahkan spiritual. Dominasi instrumentalisme kebudayaan
kontemporer yang fokus pada manusia sebagai homo
faber, meneguhkan keengganan bagi dunia pendidikan (khususnya pendidikan
tinggi, termasuk di Indonesia) untuk memasukkan pendidikan jasmani sebagai
salah satu komponen inti kurikulum. Hal ini masih ditambah dengan pemahaman
bias bahwa pendidikan jasmani sekedar mengajarkan pengetahuan dan praktek
berolahraga yang tidak menjanjikan “nilai lebih”. Tubuh yang mendidik, merupakan
tawaran revolutif pendidikan jasmani yang mengembalikan hakikat tubuh sebagai
subjek primordial kemanusiaan.
Kata Kunci: Tubuh yang Mendidik, Revolusi
A. Jasmani sebagai Objek, Jasmani sebagai Subjek
Bangsa ini sejak awal
kemerdekaan selalu menyertakan pendidikan jasmani sebagai salah satu pelajaran
wajib di sekolah. Kurikulum tahun 1947, “Rentjana Peladjaran”, dan rentetan
kurikulum berikutnya hingga saat ini (2016), yang selalu disertakan adalah mata
pelajaran pendidikan jasmani (Sukendro, 2012: 7-9). Kesadaran bertubuh secara
mendasar dipikirkan oleh bangsa ini untuk selalu memperoleh porsi penting dalam
proses pendidikan. Jika kemudian saat ini pendidikan jasmani dikesampingkan
sebagai mata pelajaran penting (misalnya dengan tidak diperhitungkan di UN) dan
di dunia perguruan tinggi seolah-olah berbagai kampus mencukupkan “pendidikan
jasmani” ke ranah ekstrakurikuler karena justru dianggap membebani SKS
“penting”, maka hal tersebut bagi penulis merupakan fenomena menarik dan
memerlukan analisis dan riset tersendiri. Dunia pendidikan bagaimanapun tetap
sepakat bahwa apapun keahlian dan aktivitas seseorang, kesehatan dan kebugaran
tubuh merupakan prakondisi yang vital. Tanpa memperhatikan kebutuhan dan
kepentingan tubuh, apapun kepentingan manusia bisa dipastikan tidak akan
seimbang yang cenderung mengarah pada ketidaktuntasan bahkan penghancuran diri.
Wacana tentang tubuh dalam
ranah ilmu-ilmu sosial mulai
muncul sekitar tahun 1980-an, terutama dipicu dengan pro dan kontra aspek
sosial dan politis dari feminisme, persoalan rumit seputar teknologi medis
dalam fertilisasi, teknologi realitas virtual, teknologi cyborg di
bidang industri dan kemiliteran, serta estetika tubuh dalam budaya konsumtif
modern. Kemunculan bermacam-macam wacana sosiologi tubuh dipengaruhi tradisi
teoritis filsafati tertentu, namun demikian karya-karya Michel Foucault bisa
dianggap karya paling signifikan dalam analisis sosial tentang kebertubuhan.
Perlu dicatat di sini, perspektif Foucault tentang disiplin tubuh bercorak
perspektif fenomenologis a la Merleau-Ponty. Tentu saja peran Husserl, Heidegger, dan juga Wilhelm Dilthey harus
dipertimbangkan sebagai satu garis pertumbuhan eksplorasi dan pemahaman
sosiologi-fenomenologis tubuh. Tanggapan kritis terhadap pandangan rasionalisme Cartesian menyeruak dan mengambil tempat kemudian ke
dalam orientasi post-strukturalis, dengan menggagas tema-tema tentang emosi,
hasrat dan kasih sayang, diri modern menuntut sensibilitas dan emosi-emosi, dan
keintiman kebertubuhan (Pramono, 2014: 89).
Jasmani atau aktivitas
jasmani merupakan objek material dari bidang kajian yang disebut secara luas
sebagai pendidikan jasmani (pendidikan jasmani). Pendidikan jasmani secara umum
bisa diartikan sebagai “pendidikan dari dan melalui aktivitas fisik yang
diterima individu secara formal khususnya dalam konteks institusional” (Newell,
1990: 227). Tulisan ini secara bergantian mempersamakan jasmani dengan istilah
tubuh, di mana tubuh/jasmani yang dimaksud adalah tubuh manusia sebagai satu
kesatuan kompleksitas struktur fisiologis, anatomis, biologis yang tampak
sebagai keseluruhan jasad yang kelihatan dari bagian ujung kaki
sampai ujung rambut (KBBI, 2008). Kata jasad mengacu
pada sesuatu yang dapat dikontraskan dengan pikiran, roh, sifat, atau tingkah
laku.
Permasalahan filosofis
muncul ketika mengidentifikasi apa objek formal dari pendidikan jasmani ini
yang memperbedakannya dengan bidang-bidang kajian lain yang juga membahas
jasmani seperti biologi, antropologi, filsafat manusia, dan sebagainya.
Pernyataan yang paling mudah dikemukakan secara harfiah untuk menjawab apa
objek formal pendidikan jasmani adalah bahwa pendidikan jasmani mengkaji
jasmani dalam konteks pendidikan. Menurut pendapat ini, bisa disebutkan bahwa
objek material pendidikan jasmani adalah jasmani dilihat dari perspektif
pendidikan terhadapnya. Secara lebih singkat, pendidikan jasmani berarti
mendidik jasmani/tubuh. Hal ini dianut secara luas oleh beberapa ilmuwan,
termasuk dalm tulisan Newell di atas. Frase “...education of and through physical activity...” sebagaimana ditulis
Newell (2012: 227) menegaskan makna relatif antara pendidikan dan aktivitas
fisik yang terhubung kata sambung “dari” (lebih cocok diganti “untuk” dengan
melihat konteks penjelasan Newell lebih lanjut di tulisannya) dan “melalui”.
Objek formal pendidikan
jasmani dengan demikian juga bisa ditegaskan di sini: jasmani yang dilihat
sebagai medium untuk mentransfer pengetahuan atau menanamkan karakter atau memampukan
kecakapan tertentu. Secara singkat, objek formalnya adalah jasmani sebagai
medium pendidikan. Jika yang pertama berfokus pada jasmani dari perspektif
pendidikan (di mana jasmani sebagai objek yang menjadi tujuan proses
pendidikan), maka yang kedua ini lebih menekankan jasmani sebagai medium proses
pendidikan. Medium untuk mendidik siapa? Tentu kepada “subjek” manusia.
Kedua perspektif di atas
secara gamblang melihat jasmani sebagai objek, meskipun dengan tekanan yang
berbeda. Subjek yang mendidik dan/atau yang dididik adalah diri yang berupa
jiwa. Dualisme Cartesian sangat kental dalam kedua perspektif ini: bahwa manusia
terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai dua substansi terpisah, di mana yang
disebut “Aku” biasanya selalu merujuk pada jiwa, bukan pada tubuh. Pernyataan Rene Descartes yang terkenal “cogito,
ergo sum” menjadi lambang penekanan rasionalitas di dunia Barat saat ini.
Pemisahan substansi tubuh (res extensa) dengan jiwa (res cogitans) menelurkan konsep dunia mekanis yang saat ini
masih menjadi dasar bagi sebagian besar ilmu
(termasuk dalam pendidikan jasmani), dan memengaruhi secara luar biasa banyak aspek
kehidupan. Bagi Descartes, tubuh lebih
serupa mesin yang digunakan oleh jiwa (Bertens, 2001: 140; Capra, 1997: 32).
Perspektif lain bisa
diteruskan (bukan hasil negasi) dari pemaknaan “pendidikan dari/untuk tubuh” atau “pendidikan melalui tubuh” ini, yakni tubuh yang mendidik. Tubuh mereferensikan
pengalamannya (pre-reflektif dan reflektif) kepada tubuh lain atau kepada jiwa
(diri atau orang lain). Perspektif ketiga ini berada di antara dualisme menuju
monisme. Kesadaran tubuh ini pada puncak aktualisasinya mewakili monisme murni
yang melihat “Aku” sebagai kesatuan: kesatuan pikiran dan gerak raga, kesatuan
tubuh dan jiwa. Tidak ada pembedaan substansial antara tubuh dan jiwa sebagai
“Aku”.
Jasmani yang dididik,
jasmani sebagai medium proses mendidik, dan jasmani yang mendidik adalah tiga
perspektif yang bisa diajukan sebagai objek formal pendidikan jasmani. Meskipun perspektif ketiga tidak semudah dua
perspektif lain dalam memahami dan menangkap operasionalitasnya, sebenarnya
ketiga perspektif ini ada dalam praktek “pendidikan jasmani” di Indonesia baik
secara formal (diawali tahun 1941 dengan didirikannya AILO oleh Belanda) maupun
informal (perlu penelitian lebih detail untuk mengidentifikasi “pendidikan
jasmani informal” ini, misalnya jejak sejarah kanuragan nusantara). Berikut
diuraikan ketiga perspektif tersebut.
1. Jasmani yang Dididik
Hylomorphisme Aristotelian bisa diajukan sebagai
ilustrasi filosofis paling tepat untuk menggambarkan bagaimana melalui pendidikan
jasmani, tubuh dididik oleh subjek jiwa dengan serangkaian dimensi: fisik,
teknik, strategik, taktik, dan mental. Sebagai wadah (hyle dalam filsafat Aristoteles), tubuh diisi/dididik dengan
dimensi-dimensi di atas beserta berbagai tahapan dan implementasi temuan-temuan
ilmiah tentangnya. Jiwa (morphe dalam
filsafat Aristoteles) mengisi tubuh dengan hal-hal tersebut secara terfokus dan
bertujuan khas. Fokus dan tujuan tersebut bisa berupa kesehatan, kepulihan,
ketangkasan, kelincahan, kecepatan, daya tahan, dan sebagainya. Penekanan utama
dari perspektif ini adalah pada kebutuhan dan kepentingan tubuh sebagai tujuan
terpenting, yang berkonsekuensi pada kebutuhan dan kepentingan jiwa.
Meskipun orientasi pembinaan tertuju
pada aspek jasmani, namun demikian seluruh skenario adegan pergaulan yang
bersifat mendidik juga tertuju pada aspek pengembangan kognitif dan afektif
sehingga pendidikan jasmani merupakan
intervensi sistematik yang bersifat total, mencakup pengembangan aspek fisik,
mental, emosional, sosial dan moral-spiritual (KDI Keolahragaan, dalam Pramono, 2014: 230).
Tubuh adalah objek, jiwa adalah subjek. Pandangan
fundamental seperti ini menjadikan tubuh diperlakukan relatif sebagai sesuatu
yang hanya berfungsi reseptif dan pasif. Tetapi sebagai objek yang lekat dengan
multidimensionalitas manusia sebagai pemiliknya, tubuh juga diyakini bisa
berubah seiring perlakuan terhadapnya, baik secara natural maupun artifisial. Tingkat penerimaan yang terorganisir dari
masyarakat olahraga terhadap kerangka kerja ilmu-ilmu alam serta
penerapan skema behavioristik dan stimulus-respon merupakan bukti yang jelas
untuk hal ini, yang meneguhkan pemahaman bahwa perwujudan manusia (atlet) lebih
sering diobjektivikasi dan direduksi sedemikian rupa (Meier, dalam Morgan dan Meier (ed.), 1995:
91).
Untuk tujuan kesehatan, tubuh yang bisa melapuk dan
rusak ini dididik untuk memperlama masa optimalnya dalam upaya jiwa agar selama
mungkin hidup dan selama mungkin sehat bugar. Demikian juga halnya dengan
tujuan kepulihan, di mana tubuh dikenakan berbagai perlakuan untuk kembali
kepada masa optimalnya dalam menghadapi kehidupan. Tubuh tidak hanya diupayakan
optimal, tetapi juga maksimal. Atas dasar hasrat naluriah tersebut, tubuh
dikuatkan, dilincahkan, di-daya tahan-kan, dimampukan untuk lebih cepat, tangkas,
kokoh, dan awet bugar. Karakter reseptif dan pasif dari tubuh dengan demikian
dianggap sebagai lokus kepentingan diadakannya pendidikan jasmani, dengannya
tubuh dididik untuk mematuhi kebutuhan-kebutuhan diri di atas: diri yang adalah
berupa “Aku-jiwa”.
2. Jasmani sebagai Medium
Perspektif kedua ini tidak mudah dipisahkan bahkan
diperbedakan dari perspektif pertama. Melanjutkan pandangan yang pertama di
atas, manusia menghendaki sesuatu, yang agar tercapai memerlukan medium berupa
jasmani. Pendisiplinan tubuh agar sesuai dengan standar/ukuran tertentu, adalah
salah satu contohnya. Ketika manusia (lebih spesifik lagi: jiwanya) menghendaki
agar orang-orang lain mengaguminya, maka tubuh dicitrakan sedemikian rupa
sehingga standar-standar citra tubuh ideal diupayakan. Melalui pendidikan
jasmani maupun olahraga, tubuh diperlakukan sedemikian rupa sehingga bisa
diproyeksikan ke orang-orang lain dan dirinya sendiri bahwa “dia” (subjek)
layak untuk dianggap pantas, ideal, seksi, macho, disegani, dan hal-hal lain
sejenisnya.
Berbeda tipis dari perspektif pertama, titik tekan
perspektif tubuh sebagai medium proses pendidikan ini adalah pada tujuan lain
sebagai hasil proses pendidikan jasmani, dan bukan didominasi untuk berhenti
pada kebutuhan dan kepentingan tubuh. Atas dasar itulah, tujuan lain tersebut
berarti bukan bersifat kebertubuhan, atau setidaknya melampaui kebutuhan dan
kepentingan tubuh sebagaimana disebutkan di paragraf sebelumnya. Citra tubuh
ideal, pembentukan karakter, gaya hidup, dan prestasi (terutama di bidang
olahraga) adalah berbagai kerangka tujuan tersebut. Objektivitas tubuh meskipun
tidak setajam perspektif pertama, namun juga ditekankan dengan cara
“mengendarai tubuh” menuju arah tujuan tertentu tersebut.
Pendidikan melalui jasmani bagi fenomenologi tubuh Merleau-Ponty, tak sekedar
dihayati secara sempit dalam hal olahraga, namun setiap pengalaman darinya
persepsi, dunia, dan tubuhku tumpang tindih, niscaya diterima tidak hanya oleh
pikiranku tetapi juga oleh tubuhku. Sebagai konsekuensi praktisnya, pendidikan melalui tubuh/jasmani, berarti sama maknanya dengan pendidikan melalui pikiran/jiwa. Ini berlangsung
resiprokal. Pendidikan (atau pengetahuan) melalui
pikiran/jiwa, identik – bahkan secara ontologis didahului - dengan pendidikan melalui
tubuh. Kedua ungkapan resiprokal ini hanya perlu diberi catatan bahwa “tugas”
untuk setiap jenis pengetahuan/pengalaman sudah dibedakan secara
anatomis-fisiologis (misalnya suara didengar telinga, ingatan disimpan otak) (Pramono,
2014: 231).
3. Jasmani yang Mendidik
Kesadaran primordial atau pra-reflektif merupakan
titik awal sekaligus dasar dari argumen perspektif ketiga ini. Objek-Dunia
menyentuh Aku-Subjek pertama-tama melalui tubuh. Merleau-Ponty menyebut
“ontologi daging” untuk menggambarkan sentuhan dari kesatuan tak terpisahkan
antara aku dan duniaku ini - yang dia istilahkan sebagai chiasmus. Bukan pikiran yang pertama-tama mengidentifikasi
persentuhan sesuatu dengan tubuh, tetapi daging. Hanya saja di tahap primordial
ini daging berikatan atau bersentuhan dengan sesuatu (misalnya hawa udara atau
kulit tangan) tanpa mengobjektivikasikan sesuatu itu. Objektivikasi hanya
terjadi di tahap reflektif, tahap sesudah tubuh memancarkan pengetahuan untuk
ditangkap pikiran. Inilah mengapa paham monisme murni sangat kental di
perspektif ini: “Aku adalah (juga) tubuhku”. “Tubuh-subjek” adalah entitas atau realitas tunggal yang bukan mental
bukan pula fisik, tetapi serempak keduanya. Penerimaan informasi pengetahuan apapun, termasuk dalam aktivitas fisik,
dikelola oleh aku yang sekaligus jiwa dan tubuh (Meier, dalam Morgan dan Meier (ed.), 1995: 91; Pramono, 2014:
232).
Berdasarkan pemahaman primordial tersebut, tubuh –
yang bersama-sama jiwa berada sebagai satu kesatuan tak terpisahkan –
sesungguhnya merupakan lautan pengetahuan maha luas. Hanya sebagian dari
pengetahuan itu yang tersaring sebagai pengetahuan yang disadari, pengetahuan
jiwa. Kondisi primordial ini adalah kondisi sangat azali, sangat alami, yang
belum dikenai standar-standar produk pemikiran apapun. Kepolosan dan
kealamiahan kesadaran tubuh inilah yang bagi penulis dianggap penting untuk
memunculkan istilah “tubuh yang mendidik”, di mana tubuhlah yang menggerakkan
“aku”[1] untuk berkarakter,
berpengetahuan, bersikap, dan bergerak dalam rentang kualitas tertentu.
Pendidikan jasmani menurut perspektif ini berarti
optimalisasi tubuh yang membentuk karakter tertentu, memberi pengetahuan
tertentu, menuntun untuk bersikap tertentu, dan memampukan bergerak sesuai
ukuran tertentu. Tentu saja kerja jiwa seperti pikiran, ingatan, atau kesadaran
tetap penting, namun lebih sebagai pengarah atau penyelaras. Patut ditekankan
lagi, bahwa hubungan tubuh dan jiwa ibarat dua sisi dari uang yang sama. Satu
substansi dari dua aspek manunggal dari diri manusia.
B. Bidang Studi dan Fokus Aktivitas
Di Indonesia, pendidikan
jasmani dan olahraga merupakan bagian dari olahraga pendidikan, satu di antara
tiga domain ruang lingkup olahraga dalam UU No. 3 SKN (Sistem Keolahragaan
Nasional). Dua domain yang lain adalah
olahraga rekreasi dan olahraga prestasi. Adanya olahraga prestasi sebagai
domain tersendiri secara tegas mengindikasikan bahwa pendidikan jasmani tidak
diarahkan untuk menelurkan olahragawan berprestasi, tetapi untuk tujuan yang
segaris dengan Sistem Pendidikan Nasional. Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan yang dituangkan dalam Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 menyebutkan,
“Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab”.
Pendidikan jasmani, menurut logika
hukum, berada di wilayah pembidangan pendidikan, yang berarti juga patuh
pada tujuan pendidikan nasional (bukan untuk tujuan lain). Tentu saja ada
rasionalisasinya ketika melalui pendidikan jasmani, olahraga prestasi mendapatkan
bibit olahragawan sejak usia dini.
Pembentukan habituasi
olahraga seperti suasana menyenangkan dalam beraktivitas, pengajaran
keterampilan gerak yang benar, penanaman nilai-nilai sportivitas, motivasi
berolahraga yang tinggi, adalah beberapa relevansi pendidikan jasmani terhadap
identifikasi dini olahraga prestasi di lembaga pendidikan. Tetapi pendidikan
jasmani tidak valid untuk diarahkan membentuk olahragawan prestasi, karena,
sekali lagi, bukan itu tujuan pendidikan jasmani. Konsekuensinya,
guru/dosen yang memberi materi dominan olahraga prestasi di mata
pelajaran/kuliah pendidikan jasmani, berarti melakukan tindakan menyimpang,
baik secara legal maupun substansial. Prestasi ke-cabor-an (cabang olahraga)
hanya bagian kecil (bukan dominan) dari keseluruhan muara pendidikan jasmani. Badan Standar Nasional Pendidikan (2006: 486) mengeksplisitkan hal ini:
Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan bagian integral dari
pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran
jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial,
penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan
pengetahuan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan
yang dirancang secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan
nasional.
Pendidikan jasmani
memang berobjek kajian jasmani, tetapi tidak sembarang keberadaan atau
aktivitas jasmani. Pendidikan jasmani lebih mengarusutamakan jasmani dalam
konteks dasar-dasar keterampilan gerak yang benar dalam konteks keolahragaan
atau kesehatan. Itulah sebabnya Ivo Jirasek menggantikan
istilah physical education dengan kinanthropology untuk menekankan pada
fokus aktivitas jasmani yang terarah pada konteks keolahragaan dan kesehatan
(Jirasek, 2003: 109).
Literasi tubuh (physical literracy) dalam
konteks kesehatan atau keolahragaan, bisa menjadi tema utama sekaligus muara
dari pendidikan jasmani. Tubuh tidak hanya didekati dari sudut pandang ilmu
keolahragaan atau pendidikan jasmani, tetapi juga bisa dilihat dari berbagai
bidang kajian lain seperti kesehatan/kedokteran, fisika, biokimia, bahkan
sosiologi atau sejarah. Literasi tubuh dalam konteks pendidikan jasmani oleh
karenanya dibatasi pada penguasaan aspek-aspek mendasar tentang tubuh, entah
fisiognomi dasar, keterampilan gerak dasar, sosioantropologi dasar. Penguasaan
wawasan kebertubuhan dasar ini pada akhirnya memberi ruang pada guru/dosen dan
siswa/mahasiswa untuk selalu membuka diri terhadap kerelatifan kebenaran
tentang tubuh sekaligus membuka diri terhadap ruang-ruang gelap yang belum
sepenuhnya disibak oleh pengetahuan modern. Tulisan Frithjof Capra (1997)
atau Deepak Chopra (1996) yang mempersandingkan kearifan timur dengan sains
mutakhir, masih sangat relevan dipertimbangkan
sebagai cakrawala wawasan kebertubuhan yang terbuka dan unfinished truth.
Tubuh sebagai objek sebagaimana
tergambar di sepanjang sejarah ilmu dan filsafat di berbagai belahan dunia, pada
hakikatnya memposisikan tubuh selalu dalam posisi subordinat jiwa. Pandangan subordinasi tubuh (tubuh sebagai objek) memang
tidak perlu dipersalahkan atau dikhawatirkan, termasuk dalam proses pendidikan
jasmani, selama tubuh tidak diperlakukan sebagai semata-mata objek pemuas jiwa
yang dipaksa-paksa, dimanipulasi, diracuni, atau bahkan dimutilasi untuk
melayani “kebutuhan” jiwa. Kasus kerja paksa, doping atlit, operasi
penghilangan jari kelingking kaki untuk peraga sepatu, dan sejenisnya adalah
contoh perlakuan tidak pada tempatnya bagi tubuh. Dominasi instrumentalisme kebudayaan kontemporer yang fokus pada
manusia sebagai homo faber
memungkinkan pandangan sesat terhadap relasi tubuh dan jiwa yang bisa saja –
dan sudah – terjadi. Penolakan dan kewaspadaan beberapa pemikir seperti Maine
de Biran, Ludwig Feuerbach, Friedrich Nietzsche, Merleau-Ponty, dan Gabriel
Marcell mewakili paham yang mengangkat objektivikasi tubuh ke pemikiran
sebaliknya: subjektivitas tubuh.
C. Revolusi
Kopernikan Tubuh
Tubuh adalah subjek,
atau, Aku adalah tubuhku. Tubuh bukan sejenis alat sebagaimana gunting untuk
memotong kertas, bukan pula wadah tempat jiwa tumbuh berkembang. Tubuh adalah subjek kesatuan manusia dengan dunianya. Subjek tidak bisa
dipisahkan dari tubuh (Merleau-Ponty, 1962: 75). Manusia terhubung dengan
dunia pertama-tama bukan oleh jiwanya, tetapi oleh tubuhnya. Menurut
Merleau-Ponty, seseorang adalah tubuhnya, dan berbeda dengan Descartes,
seseorang tidak terhubung dengan tubuhnya sebagai objek eksternal. Pengetahuan yang terlibatpun
bukanlah pengetahuan reflektif. Inilah apa yang disebut Merleau-Ponty sebagai
“kerajaan pra-objektif” (Syamsuddin, 2014: 64-65).
Persepsi merupakan fenomena
jasmaniah (digunakan dalam arti yang sama oleh penulis dengan istilah
kebertubuhan), bukan peristiwa mental yang terjadi di akhir rantai sebab-akibat
fisis sebagaimana dugaan Descartes. Tubuhlah yang menyadari, bukan
pikiran. Artinya, aku menyadari bukan sebagai subjek berhadap-hadapan dengan
objek, namun sebagai agen-agen jasmaniah
di dalam dan terhadap dunia. Merleau-Ponty memahami persepsi sebagai aspek apa
yang disebutnya, mengikuti Heidegger, “being in the world” (être au
monde). Misteri persepsi dengan demikian adalah misteri bahwa meskipun kita
sendiri ‘tertanam” di dalam dan bagian dari dunia, yang pada dirinya sendiri
tidak sepenuhnya kabur dan tak dapat dimasuki, namun terbuka bagi kita sebagai medan kesadaran dan tindakan. “Persepsi”,
demikian tulis Carman, “adalah selalu sekaligus pasif dan aktif, situasional
dan praktis, terkondisikan dan bebas” (Carman, 2008: 27 dan 79). Tubuh dan dunia adalah dua entitas yang tak
terpisahkan. Kepenuhan yang satu diperoleh dengan menyentuh yang lain. Tubuh
menjadi utuh dengan menyentuh dunia. Sebaliknya dunia menjadi dapat dipersepsi
dengan menyentuh tubuh
(Pramono, 2014: 95).
Struktur bawaan, kemampuan umum dasar, dan kemampuan
kebudayaan yang berangkat dari tubuh yang tumpang tindih dengan dunia dan
kesadaran, dalam penelitian ini dikerucutkan pada konsep dan konteks skill (kecakapan). Merleau-Ponty
menggunakan istilah “habit”
(kebiasaan) sebagai sinonim “skill”,
sehingga ketika dia merujuk pada pencapaian kecakapan dia mengatakan “pencapaian
kebiasaan” (Merleau-Ponty, 1962: 143). Kemampuan mengalami baginya seolah sama
dengan pencapaian kecakapan menubuh.
The analysis
of motor habit as an extension of existence leads... to an analysis of
perceptual habit as the coming into possession of a world. Conversely, every
perceptual habit is still a motor habit and here equally the process of
grasping a meaning is performed by the body
(Merleau-Ponty, 1962: 153).
Pancaran intensional (intentional arc)[2]
diajukan Dreyfus sebagai cara mengokohkan persepsi dan aksi kecakapan, suatu
cara kecakapan menubuh dalam menentukan cara segala sesuatu menunjukkan diri ke
seseorang (Dreyfus, 1996: 3). Pancaran intensional ini dianggap sebagai
interkoneksi menubuh dari tindakan dan persepsi kecakapan. Tubuh yang mendidik digambarkan dengan cara
pancaran intensional ini: mengangkat kesatuan perseptual pra-reflektif subjek
didik, dunia, dan kesadaran sebagai awal dari kesadaran reflektif untuk
mengidentifikasi, mengklasifikasi, menstrukturisasi, mensistematisasi, dan
seterusnya, berbagai konsep hasil dari pancaran-pancaran intensional terpilih.
Literasi tubuh mengokohkan
pancaran intensional ini dalam rangka mengkonstruksi berbagai hal, dalam hal
ini me(re)konstruksi pemahaman, sikap, dan arah bagaimana seseorang
(siswa/mahasiswa) memperlakukan tubuhnya dan tubuh yang-lain, menyimpulkan
sesuatu dari kesadaran menubuh tersebut (misalnya pembentukan karakter), serta memproyeksikan
kebertubuhannya dalam konteks kebertubuhan (dan, dengan demikian, kemanusiaan)
universal. Pendidikan jasmani tidak lagi sekedar mengobjektivikasi tubuh,
tetapi justru tubuhlah yang menjadi subjek mendidik darinya berbagai konsep,
teori, atau tindakan mengambil tempat yang semestinya. Komunikasi literasi
tubuh dengan pancaran intensional ini bersifat niscaya dan terus menerus,
sehingga pendidikan jasmani juga sudah semestinya dilihat sebagai proses
pendidikan yang terbuka dan dinamis.
Meskipun pancaran intensional ini
tidak selalu (bahkan jarang) signifikan bagi munculnya revisi literasi tubuh
yang sudah ada, tetapi “tubuh universal” juga tidak selalu sepenuhnya dipatuhi
oleh “tubuh subjektif”. Ini berarti, seorang siswa bisa saja memiliki kekhasan
untuk mampu berenang cepat di lintasan yang ditentukan, misalnya dengan
memejamkan mata di setiap hitungan atau tanda tertentu, di luar apa yang
diinformasikan oleh literasi tubuh yang ada. Pengalaman pada dirinya sendiri
selalu bersifat sangat subjektif dan spontan atau pra-kesadaran sebagai
gambaran dari proyeksi-proyeksi pancaran intensional terus menerus tersebut. Pengalaman
ini untuk menjadi pengetahuan bersama, dikoneksikan dengan berbagai wawasan
yang sudah ada, dalam hal ini literasi tubuh. Pengalaman tubuh, oleh karena
itu, selalu merupakan penjumlahan pancaran intensional tak terbatas sebagai
karakter primordial dari “Aku” (digambarkan secara detail melalui model berikut
ini).
Pengalaman
tubuh
Jumlah
seluruh pengalaman yang menyatu sebagai Aku, yang dibuat dalam pengembangan tubuh sendiri baik individual maupun
sosial, menjadi kognitif atau afektif, sadar atau tak sadar
|
Orientasi
Tubuh
Orientasi
dalam dan pada tubuh sendiri dengan sensibilitas luar dan dalam, khususnya
persepsi kinesthetik
|
Estimasi
Ukuran Tubuh
Estimasi
dimensi ukuran dan ruang tubuh sendiri
|
Pengetahuan
Tubuh
Pengetahuan
faktual bangunan dan fungsi tubuh serta bagian-bagiannya termasuk perbedaan
kanan-kiri
|
Kesadaran
Tubuh
Representasi
psikologis dari tubuh atau bagian tubuh dalam pikiran individual atau
perhatian langsung ke arah tubuh sendiri
|
Batas
Tubuh
Pengalaman
batas-batas tubuh; tubuh dalam perbedaannya dengan lingkungan
|
Sikap-Sikap
Tubuh
Sikap
total ke arah tubuh dan penampakannya, khususnya kepuasan tubuh (atau
ketidakpuasannya)
|
Skema
Tubuh
Aspek
neurofisiologis dari pengalaman tubuh, mengisi seluruh tampilan perspektif-kognitif
dari individu tentang tubuhnya sendiri
|
Kesan
Tubuh
Aspek
psikologis-fenomenologis dari pengalaman tubuh yang mengisi seluruh
tampilan emosional-afektif individu tentang tubuhnya sendiri
|
Aktivitas jasmani (olahraga maupun
non-olahraga) didominasi pengalaman langsung. Pengalaman langsung tidak
mengenal apapun objek murni, namun selalu berupa subjek yang
mengalami. Subjek yang mengalami dalam persentuhannya dengan dunia ini adalah
subjek alami, subjek yang ada hanya melalui tubuhnya (Syamsuddin, 2014: 65).
Ilustrasi tentang mengendarai mobil yang diketengahkan Merleau-Ponty sebagai corporeal schema, menarik untuk lebih
memahami “pengalaman langsung” tersebut dalam arti praktis. Saat mengendarai
mobil, seseorang tidak berpikir “tentang” mobil, namun berpikir “sebagai”
mobil, “dari sudut pandang mobil”. Konsentrasi di jalan tidak dapat terjadi
jika seseorang masih berpikir tentang mobil. Mobil telah menubuh dalam corporeal schema seseorang itu dan
dengan demikian menjadi perluasan tubuh manusia (Syamsuddin, 2014: 67).
Instruktur/guru/dosen
dalam membelajarkan pendidikan jasmani menurut logika ini tidak mencukupkan
diri dengan menyodorkan diktat/modul/buku sesuai kurikulum untuk dilaksanakan
di kelas secara bersama-sama, namun juga selalu mengkomunikasikan pengalaman
siswa sebagai feed back berharga yang
bisa saja direkonseptualisasikan sebagai modifikasi (penambahan, pengubahan,
pengurangan) dari materi yang sudah ada. “Ayunan” antara tubuh sebagai objek
dan tubuh sebagai subjek terus menerus terjadi bahkan dalam hitungan yang
“serentak” dalam proses pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani di satu sisi
menempatkan jasmani sebagai objek, tetapi di saat yang sama menempatkannya
sebagai subjek. Pengetahuan yang berjalanpun, tidak hanya berasal dari “luar”,
yang “universal”, tetapi juga bisa berasal dari “dalam”, yang “subjektif”;
tidak hanya berasal dari buku-buku, modul, literasi tubuh, perundang-undangan,
tetapi juga bisa berasal dari pengalaman spontan dan otentik dari tubuh.
Setidaknya ada
konsekuensi filosofis ketika cara pandang relatif terhadap posisi objek dan
subjek suatu hal dianalisis secara intensif, bahkan bisa jadi hal itu
menghasilkan suatu revolusi kopernikan (meminjam istilah Kant untuk usahanya
mengubah arah pandang proses berpikir filsafat). Revolusi kopernikan pengalaman
tubuh di pendidikan jasmani ini memang mengkonsekuensikan pembalikan cara
pandang: yang semula tubuh semata-mata objek yang diberi perlakuan atau diisi
pengetahuan tertentu, diubah secara drastis bahwa tubuh adalah subjek yang
mendidik. Manusia yang di posisi subjek didik pendidikan jasmani, berarti
senantiasa memeriksa cara pandang terhadap tubuhnya dalam kaitannya dengan
berbagai dimensi ketubuhannya mulai dari dimensi fisiognomi hingga psikososial,
dari struktur fisik ke universalitas entitas, dari urusan perut hingga ke
urusan spiritual!
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, BSNP.
Bertens, K., 2001, Filsafat Barat Kontemporer: Prancis,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Capra,
Fritjof, 1997, Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan,
alih bahasa: M. Thoyibi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta.
Carman, 2008, Merleau-Ponty, Routledge, Oxon.
Chopra, Deepak, 1996, Tubuh Yang Tak Kenal Tua,
Pikiran Abadi: Alternatif Untuk Menjalani Kehidupan, alih bahasa T.
Hermaya, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Departemen Pendidikan
Nasional, 2008, Kamus Besar Bahasa
Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat,
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Dreyfus, Hubert L., The
Current Relevance of Merleau-Ponty's Phenomenology of Embodiment, dalam The Electronic Journal of Analytic Philosophy, 4 (Spring 1996)
Philosophy Department, Sycamore Hall 026, Indiana University, Bloomington.
Jirásek, I, 2003b, Philosophy of Sport, or Philosophy of Physical Culture? an Experience
from the Czech Republic: Philosophical Kinanthropology, dalam Sport Education and Society, 8(1),
2003b, 105–117.
Meier, K.V., 1995, “Embodiment, Sport and Meaning”,
dalam William J. Morgan dan Klause V. Meier (ed.), Philosophic Inquiry in Sport, Second
Edition, Human Kinetics, Champaign, USA.
Merleau-Ponty,
M., 1962, The Phenomenology of Perception,
Colin Smith (transl.), Routledge and Kegan Paul, London.
Newell, Karl M., 1990, Physical Education in
Higher Education: Chaos Out of Order, Quest, 42:3, 227-242. Published online 2012.
Pramono,
Made, 2014, Konsep Tubuh-Subjek Maurice Merleau-Ponty dalam Perspektif
Ontologi dan Sumbangannya Bagi Rekonstruksi Filsafat Ilmu Keolahragaan, Disertasi, Pasca Sarjana
Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta, Tidak diterbitkan.
Sukendro,
2012, Telaah Kurikulum Pendidikan
Jasmani di Indonesia, Jurnal
Cerdas Sifa Pendidikan. Vol. 1 No. 1. Hal. 1-9.
Syamsuddin, M.Mukhtasar, 2014, Mind-Body
Interconnection (A Philosophical Investigation on the Western and Eastern
Approaches to the Human Nature), Kanisius, Yogyakarta.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
Undang-Undang No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan
Nasional.
[1] Tanda
petik untuk menandai pemaknaan teks yang sebenarnya tidak relevan di kondisi
penyatuan atau chiasmus.
[2]
Fenomena inti dari
perhatian ke fenomenologis adalah intensionalitas – suatu kelangsungan objek (the object-directedness), atau
ke-apa-an (“aboutness”) dari
pengalaman. “Intensionalitas”
sebagai salah satu tema pokok dan dasar fenomenologi digunakan oleh Husserl untuk menunjukkan hubungan kesadaran dengan
objeknya (dalam konteks pengenalan), namun pada Merleau-Ponty paham yang sama
terutama berperan untuk melukiskan kaitan subjek dengan dunianya. Bagi
Merleau-Ponty kaitan subjek dengan dunianya bersifat pra-reflektif, artinya mendahului segala refleksi dan
kesadaran. Ini bukan lagi dalam konteks pengenalan, tetapi pada taraf
eksistensi.
Langganan:
Postingan (Atom)

